ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Rabu (5/8/2026), memulai sesi dengan langkah positif, melanjutkan reli kuat yang terjadi sehari sebelumnya. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka pada level 6.338,59, menguat 18,98 poin atau 0,30% dibandingkan penutupan Selasa (4/8) di level 6.319,61
Beberapa sumber mencatat angka pembukaan yang sedikit lebih tinggi, yaitu di level 6.343,68 atau naik 0,38%. Konsistensi penguatan ini menunjukkan bahwa sentimen positif masih mendominasi perdagangan di awal pekan.
Penguatan IHSG pada hari ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari pasar global dan antisipasi terhadap data ekonomi domestik. Sentimen risk on (berani mengambil risiko) menguat setelah muncul optimisme terhadap upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Menteri Keuangan AS menyatakan peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar. Hal ini mendorong penurunan harga minyak dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Selain itu, Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi, dan bursa saham Asia-Pasifik kompak dibuka menguat. Indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 4%, sementara Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 1,8%.
Investor asing kembali mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp741,19 miliar pada Selasa (4/8), terkonsentrasi pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI. Aksi beli ini memberikan tambahan likuiditas dan momentum positif bagi indeks.
Faktor kunci yang paling ditunggu-tunggu pasar pada hari ini adalah rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) kuartal II-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Konsensus pasar memperkirakan ekonomi tumbuh 5,1% secara tahunan (year-on-year), lebih rendah dibandingkan 5,61% pada kuartal I-2026. Perlambatan ini diperkirakan terjadi akibat normalisasi konsumsi pasca-Lebaran, melambatnya ekspor, dan berkurangnya belanja pemerintah. Namun, optimisme tetap terjaga karena konsumsi rumah tangga masih diprediksi menjadi motor pertumbuhan, didorong oleh program perlindungan sosial dan stabilisasi harga pangan dan energi.
Analis memproyeksikan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan. Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji resistansi di level 6.370 – 6.400. Sementara itu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.246 – 6.211, indeks berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance di 6.377, 6.450, hingga 6.500. Namun, ia juga mengingatkan potensi pullback sehat jika indeks kembali bergerak di bawah EMA50, dengan area support di 6.246, 6.211, dan 6.161.

