ASIAWORLDVIEW – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2026 mencatatkan surplus sebesar USD3,58 miliar. Capaian ini menjadi indikasi, perekonomian masih berada di jalur yang postif.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus semester I ditopang oleh surplus non-migas yang mencapai USD19,35. Namun, pada Juni 2026, situasi berbalik. Ekspor bulanan tercatat sebesar USD25,46 miliar.
Lonjakan impor ini mencerminkan tingginya permintaan domestik, terutama untuk bahan baku dan barang modal, seiring dengan aktivitas ekonomi dalam negeri yang tetap bergeliat.
Total impor selama semester I 2026 tercatat sebesar USD 137,24 miliar, naik 18,69% dibandingkan semester I 2025. Kenaikan impor yang signifikan ini menjadi sinyal bahwa konsumsi dan investasi dalam negeri masih kuat, namun juga perlu diwaspadai karena dapat menekan neraca perdagangan ke depannya.
Baca Juga: Prabowo Ingatkan Ancaman Asing Incar Kekayaan Nusantara
Surplus semester I yang tetap terjaga menunjukkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Namun, defisit di bulan Juni mengindikasikan adanya tekanan yang mulai terasa, terutama dari sisi impor. Pelaku pasar dan analis akan terus mencermati data perdagangan bulan-bulan berikutnya untuk mengukur apakah tren ini akan berlanjut.
Stabilitas harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) tetap menjadi penopang utama bagi surplus non-migas Indonesia, sehingga fluktuasi harga global sangat memengaruhi neraca perdagangan. Di sisi lain, kinerja industri manufaktur menunjukkan kontribusi besar terhadap perekonomian, menandakan bahwa agenda hilirisasi dan industrialisasi berjalan positif. Namun, keberlanjutan pertumbuhan ini sangat bergantung pada rantai pasok yang stabil dan efisien. Tantangan muncul dari tekanan impor, di mana kenaikan impor yang lebih cepat dibanding ekspor berpotensi menekan surplus perdagangan.
