ASIAWORLDVIEW – Petani sawit memiliki peran yang sangat penting dalam menopang perekonomian bangsa karena mereka adalah produsen utama bahan baku industri minyak sawit, salah satu komoditas ekspor terbesar Indonesia. Kontribusi sawit tidak hanya berupa devisa negara, tetapi juga penciptaan lapangan kerja di pedesaan, pengembangan wilayah, dan peningkatan kesejahteraan jutaan keluarga petani. Namun, agar peran ini berkelanjutan, konsep sustainability perlu diterapkan secara menyeluruh.
Hal itu diungkapkan Franky Oesman Widjaja selaku Co-Chair PISAgro di sela-sela Indonesia International Sustainability Forum (ISF) di Jakarta, Selasa (6/10/2026). Ia menempatkan petani sawit sebagai fondasi utama keberlanjutan sektor sawit nasional.
“Ini menjadi posisi yang strategis karena petani kecil bukan hanya bagian dari rantai pasok, melainkan penentu apakah industri sawit Indonesia mampu bertahan dan bersaing di pasar global yang semakin ketat,” ia mengatakan.
Franky menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa hanya dilihat dari sisi perusahaan besar atau regulasi pemerintah, tetapi harus dimulai dari tingkat akar rumput. Ini berarti kebijakan dan investasi tidak boleh berhenti pada hilirisasi dan ekspor, tetapi harus menyentuh peningkatan kapasitas produksi, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani sebagai produsen utama.
“Jika petani tertinggal, maka produktivitas nasional akan stagnan, pasokan bahan baku industri hilir akan rentan, dan daya saing Indonesia di pasar minyak nabati global akan melemah. Sebaliknya, jika petani dibina dengan baik, mereka dapat menjadi motor pertumbuhan pedesaan, pencipta lapangan kerja, dan penjaga stabilitas pasokan yang membuat industri sawit lebih resilien terhadap guncangan harga dan permintaan global,” ia menambahkan.
Baca Juga: Menteri Rosan Roeslani: KITAS Terbit 6 Hari, Dorong Kepastian Investasi
Penerapan keberlanjutan mencakup penggunaan bibit unggul yang ramah lingkungan, praktik budidaya yang efisien dan sesuai standar internasional, serta pengelolaan lahan yang mencegah deforestasi dan degradasi tanah. Dengan pendekatan ini, produktivitas dapat meningkat tanpa harus membuka lahan baru, sehingga tekanan terhadap lingkungan berkurang.
Selain itu, integrasi petani dengan koperasi, perusahaan, lembaga keuangan, dan pemerintah akan memperkuat akses mereka terhadap pembiayaan, teknologi, dan pasar yang adil. Jika keberlanjutan benar-benar dijalankan, sawit bukan hanya menjadi motor ekonomi, tetapi juga menjadi contoh bagaimana sektor agribisnis bisa tumbuh secara inklusif, menjaga keseimbangan antara keuntungan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.

Pembinaan petani sawit, menurut Franky, mencakup peningkatan kapasitas teknis, akses terhadap bibit unggul, pupuk, dan teknologi ramah lingkungan. Selain itu, pendampingan dalam praktik budidaya yang sesuai standar keberlanjutan internasional.
Intervensi ini menyasar akar masalah produktivitas: banyak petani sawit masih menghadapi kesenjangan hasil (yield gap) karena menggunakan bibit tidak bersertifikat, teknik pemupukan yang kurang tepat, dan manajemen kebun yang belum optimal. Dengan perbaikan teknis, produksi per hektare dapat meningkat, biaya per unit menurun, dan pendapatan petani naik—sekaligus mengurangi tekanan untuk membuka lahan baru, yang sering menjadi sumber kritik terhadap industri sawit.
Ia juga menyoroti perlunya integrasi antara petani, koperasi, perusahaan, lembaga keuangan, dan pemerintah dalam sebuah ekosistem yang saling mendukung. Dalam ekonomi kelembagaan, kolaborasi semacam ini berfungsi mengurangi biaya transaksi, memperkuat posisi tawar petani, dan menciptakan kepastian usaha.
“Dengan pembinaan yang terstruktur, petani sawit dapat memperoleh akses pembiayaan—yang selama ini menjadi hambatan utama karena keterbatasan agunan dan riwayat kredit—serta perlindungan risiko melalui asuransi, dan kepastian pasar dengan harga yang lebih adil,” jelasnya.
Jika ekosistem ini berjalan, rantai pasok sawit menjadi lebih inklusif, petani tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi bagian dari penciptaan nilai tambah yang lebih adil dan berkelanjutan. Tantangannya tentu tidak sederhana. Petani sawit menghadapi berbagai persoalan struktural: legalitas lahan, usia petani yang menua, keterbatasan pengetahuan, akses pasar yang timpang, serta tekanan global terhadap komoditas sawit.
“Bagi Indonesia, sawit adalah komoditas unggulan yang menyumbang devisa, lapangan kerja, dan pengembangan wilayah; namun tanpa petani yang kuat, keberlanjutan industri ini akan rapuh. Karena itu, investasi pada petani sawit adalah investasi pada ketahanan ekonomi nasional, daya saing ekspor, dan masa depan agribisnis Indonesia yang tidak hanya tumbuh secara nominal, tetapi juga adil, produktif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
