ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat tipis ke level 6.346–6.348 , naik sekitar 0,19–0,22% dibandingkan penutupan sebelumnya. Kenaikan awal sebesar 12–14 poin ini didorong oleh sektor teknologi yang memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 1,82%, diikuti sektor energi (+0,59%) dan barang baku (+0,48%).
Sebaliknya, sektor industri (-0,38%) dan kesehatan (-0,13%) justru terkoreksi. Dari sisi transaksi, nilai perdagangan awal mencapai Rp621–627 miliar dengan volume sekitar 2,03 miliar lembar saham, menunjukkan aktivitas pasar yang cukup solid.
Pergerakan saham LQ45 juga menarik perhatian. Di jajaran top gainers , BUMI naik 2,98%, ESSA naik 2,42%, dan DEWA naik 1,82%. Sementara itu, top Loser dipimpin oleh saham perbankan besar seperti BBCA yang turun 1,15%, diikuti INKP (-0,63%) dan BBNI (-0,39%). Hal ini menegaskan bahwa meskipun sektor teknologi dan energi menopang indeks, saham-saham perbankan besar justru menjadi penekan.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Secara teknikal, IHSG memiliki support di 6.250–6.300 dan resistance di 6.380–6.480 . Jika mampu bertahan di atas 6.300, analis memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan ke level 6.700–6.850 dalam jangka menengah. Namun, jika kembali turun di bawah 6.300, koreksi ke level 6.000-an masih mungkin terjadi.
Sentimen eksternal juga berperan besar: harga minyak dunia naik ke US$95/barel akibat konflik Iran–AS dan ketegangan di Laut Merah, menekan pasar global. Di sisi domestik, kebijakan moneter BI yang tetap mempertahankan suku bunga di 5,75% menjaga stabilitas rupiah, meski asing mencatat aksi penjualan besar hingga Rp1,1 triliun sehari sebelumnya.
IHSG menunjukkan penguatan tipis namun harmonis , dengan sektor teknologi dan energi menjadi motor utama, sementara saham perbankan besar terkoreksi. Prospek jangka menengah masih positif jika indeks mampu bertahan di atas support 6.300, namun investor tetap perlu mewaspadai risiko eksternal seperti peningkatan harga minyak dan ketegangan geopolitik yang dapat memicu aksi ambil untung.

