IHSG Dibuka Menguat ke 6.625, Fluktuasi Tinggi Tertekan Konflik Global

Ilustrasi pergerakan harga saham

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka perdagangan di zona hijau hari ini, Rabu (2/9/2026), dengan penguatan yang cukup signifikan. Berdasarkan data dari berbagai sumber, IHSG dibuka pada level 6.625,39, naik 25,45 poin atau setara dengan 0,39 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa sebelumnya. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan hari sebelumnya, IHSG ditutup melonjak 1,14% ke level 6.599,94.

Pada sesi pembukaan, sebanyak 278 saham tercatat menguat, sementara 90 saham melemah, dan 595 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi awal tercatat mencapai Rp412,4 miliar dengan volume perdagangan 632,4 juta saham dan kapitalisasi pasar BEI berada di kisaran Rp11.574 triliun. Indeks LQ45 yang mengukur 45 saham unggulan juga ikut naik 2,31 poin atau 0,35 persen ke posisi 656,72.

Meski dibuka menguat, pergerakan IHSG pada hari itu menunjukkan fluktuasi yang tinggi. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.629,54, namun tekanan jual yang datang kemudian membuat indeks berbalik arah dan pada pukul 09.50 WIB, IHSG tercatat melemah 37,34 poin atau 0,57 persen ke posisi 6.562,60.

Pada saat yang sama, Indeks LQ45 juga turut tertekan dan turun 4,61 poin atau 0,70 persen ke posisi 649,80. Para analis memperkirakan level support IHSG pada hari itu berada di rentang 6.540–6.570, sementara level resistance berada di 6.620–6.700. Secara teknikal, meskipun terbentuk pola two white soldiers yang mengindikasikan potensi bullish, indeks diperkirakan cenderung mengalami pelemahan dengan support di 6.536 dan resistance di 6.635.

Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?

Tekanan global menjadi faktor utama yang membebani IHSG pada sesi tersebut. Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas sejak awal September memicu lonjakan harga minyak mentah global. Kenaikan harga energi ini menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi global dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah di berbagai negaraYield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 4,788%, tertinggi dalam 20 bulan.

Sementara yield obligasi Jepang tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996. Kondisi ini menekan bursa saham global, di mana Dow Jones ambles lebih dari 400 poin pada Selasa malam, sementara bursa Asia seperti Nikkei, Hang Seng, dan Shanghai juga dibuka melemah. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyatakan bahwa jika IHSG tidak mampu bertahan di atas 6.635, indeks diperkirakan akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535–6.635.

Dari sisi sektoral, penguatan IHSG pada awal perdagangan terutama ditopang oleh sektor teknologi yang melonjak signifikan sebesar 3,26 persen. Sektor keuangan juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,04 persen dan sektor kesehatan menguat 0,78 persen. Di sisi lain, beberapa sektor justru tertekan, di antaranya sektor industri yang turun 0,52 persen, sektor infrastruktur yang susut 0,40 persen, dan sektor energi yang melemah 0,38 persen. Sektor properti juga mencatatkan koreksi sebesar 0,28 persen.

Aktivitas perdagangan pada sesi itu melibatkan frekuensi sebanyak 346.762 kali dengan volume mencapai 7 miliar saham dan nilai transaksi harian sebesar Rp2,5 triliun. Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada di kisaran Rp17.760, menambah sentimen negatif bagi pasar modal Indonesia yang masih bergantung pada aliran modal asing. Kepala Riset BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menambahkan bahwa kenaikan IHSG sebelumnya ditopang aksi beli investor asing sebesar Rp1,76 triliun, dengan saham-saham yang paling banyak dibeli adalah BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan CPIN.

Dari dalam negeri, sentimen juga cenderung beragam. PMI Manufaktur Indonesia kembali masuk zona kontraksi pada Agustus 2026 dengan level 49,8, berbalik dari posisi ekspansif 50,2 pada bulan sebelumnya. Penurunan produksi dan tenaga kerja menjadi faktor utama yang menekan aktivitas manufaktur. Di sisi lain, inflasi Indonesia mulai meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21% secara bulanan dan 3,19% secara tahunan, berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026. Kenaikan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, termasuk daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, dan beras.

Meskipun inflasi tahunan sebesar 3,19% masih dalam sasaran Bank Indonesia, peningkatan ini tetap menjadi perhatian pasar. Di tengah berbagai tekanan tersebut, para analis tetap mencermati bahwa IHSG masih berpotensi menguat terbatas, namun pasar tetap perlu waspada terhadap kemungkinan koreksi sepanjang perdagangan hari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *