Dampak Gula Berlebihan pada Ginjal, Ini Cara Mengatasinya

Minuman manis dengan kandungan gula tinggi.

ASIAWORLDVIEW – Sering kali kita mendengar mitos di masyarakat yang mengkambinghitamkan minuman manis sebagai biang kerok utama gagal ginjal. Secara ilmiah, anggapan bahwa segelas es teh manis atau kopi susu gula aren secara langsung meracuni organ ginjal Anda adalah tidak tepat. Ginjal tidak bekerja seperti saklar yang langsung mati ketika kadar glukosa melonjak. Namun, jangan keliru—memandangnya sebagai ancaman yang “tidak berbahaya” juga sama fatalnya.

Konsumsi gula berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal karena memicu diabetes, hipertensi, dan peradangan yang merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Kerusakan ini membuat ginjal kehilangan kemampuan menyaring darah secara optimal, sehingga risiko gagal ginjal kronis meningkat.

“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Hal yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi Bethsaida Hospital Gading Serpong dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM dalam keterangannya.

Tubuh yang cerdas akan merespons dengan melepaskan hormon insulin untuk “membersihkan” kelebihan gula tersebut. Namun, jika lonjakan ini terjadi terus-menerus—misalnya tiga hingga empat kali sehari—sel-sel tubuh akan kelelahan dan mulai “mengabaikan” sinyal insulin. Inilah yang kita kenal sebagai resistensi insulin. Kondisi inilah yang menjadi pintu gerbang menuju Diabetes Melitus Tipe 2, di mana pankreas akhirnya kewalahan memproduksi insulin.

Baca Juga: Mencegah Diabetes dengan Pola Makan Sehat

“Kerusakan ginjal dapat berlangsung perlahan dan pada tahap awal sering tidak menimbulkan gejala khas. Diabetes dan hipertensi merupakan dua penyebab penting penyakit ginjal kronis. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak sistem penyaringan ginjal, sedangkan tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah pada ginjal,” ia menambahkan.

 Benyakit ginjal juga dapat disebabkan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik. Tanda yang perlu diwaspadai antara lain perubahan frekuensi atau jumlah urine, urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, serta tekanan darah yang sulit dikontrol.

Pemeriksaan fungsi ginjal dapat dilakukan melalui tes darah untuk mengetahui kadar kreatinin dan memperkirakan estimated glomerular filtration rate (eGFR), serta pemeriksaan urine untuk mendeteksi albumin atau protein.

“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” ia menambahkan.

Langkah penting yang bisa dilakukan adalah membatasi gula tambahan sesuai rekomendasi WHO (maksimal 25g per hari untuk wanita dan 36g untuk pria). Selain itu, memilih makanan alami seperti buah utuh dibanding jus kemasan, serta menghindari minuman manis seperti soft drink dan energy drink.

Jangan lupakan untuk menjaga kesehatan dengan rutin memantau gula darah, tekanan darah, dan fungsi ginjal. Juga menerapkan gaya hidup sehat melalui olahraga teratur, tidur cukup, dan tidak merokok, akan membantu melindungi ginjal dari kerusakan jangka panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *