ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) mengalami koreksi pada Rabu (2/9/2026), setelah sebelumnya gagal mempertahankan level psikologis USD80.000. Mengutip data dari berbagai platform perdagangan, harga BTC diperdagangkan di kisaran USD77.000 hingga USD77.400, dengan penurunan bervariasi antara 1,46% hingga 2,4% dalam 24 jam terakhir.
Bitcoin sempat menyentuh titik tertinggi harian di USD79.196,51 sebelum akhirnya berbalik arah dan jatuh ke level terendah USD76.483 dalam sepekan terakhir. Kapitalisasi pasar Bitcoin pun turun ke sekitar USD1,55 triliun, sementara volume perdagangan 24 jam justru meningkat menjadi USD30,50 miliar, menandakan adanya pertarungan sengit antara pembeli dan penjual di pasar.
Koreksi tajam ini dipicu oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang terjadi pada 1-2 September 2026. Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap target-target Garda Revolusi Iran (IRGC) di berbagai kota seperti Bandar Abbas, Qeshm, Chabahar, dan Jask sebagai respons atas upaya Iran yang diduga akan menyerang kapal-kapal komersial dan personel militer AS di Selat Hormuz.
Baca Juga: Bitcoin Tertahan di Bawah USD80.000, ETF Spot Jadi Arah Penentu
Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik berat ke kamp militer Amerika di dekat Aqaba, Yordania. Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa jika Iran terus melakukan pembalasan, serangan berikutnya akan “lebih kuat dan lebih tinggi levelnya”.
Konflik di Timur Tengah ini langsung memicu lonjakan harga minyak mentah. Brent crude melonjak 4,6% ke USD94,65 per barel. Kenaikan harga energi yang tajam, ditambah dengan kekhawatiran inflasi dan fiskal, mendorong aksi jual besar-besaran di obligasi global berjangka panjang. Imbal hasil (yield) obligasi 10 tahun AS melonjak ke sekitar 4,79%, level tertinggi sejak Januari 2025, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun AS menyentuh 5,24%.
Kombinasi minyak yang lebih mahal dan suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan ganda yang menghantam seluruh aset berisiko (risk assets). Pasar saham AS ikut terkoreksi: Dow Jones turun 0,79% ke 52.766,88, S&P 500 turun 0,71% ke 7.631,47, dan Nasdaq turun 1,03% ke 26.099,77. Pasar kripto tidak luput dari gelombang likuidasi massal. Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa dalam waktu satu jam saja, sekitar USD1,15 miliar posisi panjang (long) di seluruh pasar kripto mengalami likuidasi paksa.
Secara keseluruhan, lebih dari 83.000 trader terkena likuidasi dengan total kerugian melebihi USD300 juta, di mana posisi panjang menyumbang lebih dari 80% atau sekitar $250 juta.
Di tengah tekanan jual yang kuat, para analis mencatat bahwa penurunan ini terjadi setelah Bitcoin mencatatkan kinerja bulanan yang impresif. Dalam 30 hari terakhir, harga BTC masih tercatat naik sekitar 22,19%. Koreksi 1,8% hari ini dipandang sebagai bagian alami dari proses konsolidasi setelah reli panjang, bukan sebagai akhir dari tren bullish jangka menengah. Dari sisi support, level USD76.000–USD77.000 saat ini menjadi zona pertahanan utama Bitcoin.

