Purwacarita Borobudur, Hidupkan Relief Sejarah dengan Teknologi Imersif

Isi relief Candi Borobudur.

ASIAWORLDVIEW – Dari balik gugusan batu andesit yang kokoh berdiri selama berabad-abad di dataran Kedu,Candi Borobudur tidak pernah sekadar menjadi tumpukan batu bisu. Ini melainkan sebuah naskah raksasa yang terukir dalam relief, menyimpan dialog antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kini, melalui sebuah inisiatif berani dari Galeri Indonesia Kaya yang bertajuk Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, naskah raksasa itu mulai dibaca ulang dengan bahasa yang akrab bagi generasi masa kini. Bukan lagi sekadar deretan panel yang dipandang dari kejauhan, melainkan sebuah teater imersif berbasis Ethical Artificial Intelligence atau AI.

Dengan bantuan teknologi mengajak publik untuk benar-benar menapaki lorong waktu. Merasakan langsung denyut peradaban di balik pembangunan mahakarya dunia yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO ini.

Langkah ini begitu istimewa adalah komitmen kuat untuk menggunakan Artificial Intelligence bukan sebagai pembuat cerita fiksi, melainkan sebagai kuas etis yang melukiskan fakta sejarah sebagaimana yang telah disahkan oleh Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan para profesional dari Museum dan Cagar Budaya. Setiap detail busana, artefak, dan arsitektur yang ditampilkan tetap berada dalam koridor kebenaran ilmiah.

Tim kreatif dari Curaweda yang digawangi oleh Azhar Muhammad Fuad dan Bening Digital Indonesia pun melakukan kunjungan lapangan langsung ke Borobudur sebagai rujukan visual. Mereka ini membuktikan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara nilai, identitas, dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap panel relief adalah jiwa yang tak tergantikan.

Baca Juga: Keindahan Tersembunyi Bromo: Lebih dari Sekadar Sunrise

Galeri Indonesia Kaya di bawah arahan Renitasari Adrian tidak hanya menjalankan fungsi sebagai ruang hiburan edukatif, tetapi menjelma menjadi benteng pelestarian budaya yang dinamis. Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan dan kekinian.

“Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis Ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin. Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini. Bagi kami, melestarikan budaya bukan hanya tentang menjaga warisan masa lalu, tetapi juga memastikan cerita, nilai, dan identitas di dalamnya tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya,” jelasnya.

“Ini mengingatkan kita bahwa melestarikan Borobudur bukanlah sekadar merawat batu dan stupanya, melainkan memastikan bahwa cerita tentang kerja keras, kesalehan, toleransi, dan keagungan peradaban nenek moyang terus bergema di tengah hiruk-pikuk modernitas, sehingga setiap generasi dapat menggali makna mendalam dari warisan yang tak ternilai ini, menjadikan Borobudur bukan sekadar tujuan wisata, melainkan sumber inspirasi abadi yang terus berbicara melintasi ruang dan waktu,” ia menambahkan.

Setiap data dan narasi yang dihadirkan tidak lahir dari imajinasi kosong, melainkan berlandaskan riset faktual yang tervalidasi secara akademis. Dalam hal ini termasuk penelusuran mendalam terhadap Prasasti Karangtahun (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M) yang menjadi saksi bisu peresmian dan pengelolaan candi.

“Perrjalanan ke masa lalu” juga menguak makna filosofis dari nama asli kawasan ini, Kāmulan i Bhūmisambhāra, yang merujuk pada asal mula tempat terkumpulnya kebajikan di bumi. Dalam ruang edutainment yang mulai dapat diakses gratis mulai 1 September 2026 ini.

Pengunjung bukan saja diajak menyaksikan proyeksi visual, tetapi diajak berjumpa dengan dua tokoh besar dari Wangsa Sailendra, yaitu Raja Samaratungga sang pembangun sekaligus pemersatu, dan putrinya, Putri Pramodhawardhani. Mereka membawa mereka menyelami visi besar serta keseharian di balik pembangunan hingga upacara peresmian.

Generasi muda juga diajak menelusuri pesan moral yang terkandung dalam relief Karmawibhangga yang mengisahkan hukum sebab-akibat. Bahkan kisah cinta penuh pengorbanan Pangeran Sudhana beserta Putri Manohara dari relief Avadana, yang semuanya dikemas bukan untuk dibaca namun untuk dialami, di mana sensor gerak akan menghidupkan flora dan fauna seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah yang selama ini terpahat diam dalam batu.

Pengunjung menapaki kembali rute sakral yang dahulu ditempuh para peziarah purba, berjalan dari Candi Mendut ke Candi Pawon, hingga akhirnya tiba di Stupa Induk Borobudur. “Perjalanan” ini menjadikan sejarah yang sebelumnya hanya tertulis dalam lembaran buku atau terpantau dari balik pagar candi, berubah menjadi petualangan personal yang menggugah rasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *