ASIAWORLDVIEW – Rabeg, terdengar asing di telinga kebanyakan orang sebagai masakan khas Nusantara. Ternyata menyimpan kekayaan rasa sekaligus sejarah panjang Kesultanan Banten.
Di tengah hiruk-pikuk konferensi pers “Ini Rasa Kita 2026” di Jakarta, nama itu kembali menggema, dibawa oleh sosok koki muda berbakat, Firhan Ashari, yang namanya melejit sebagai runner-up MasterChef Indonesia Musim 6. Dengan sedikit nada menggoda.
Ia melontarkan pertanyaan retoris yang langsung mengundang rasa penasaran, “Kalian tahu Rabeg? Baru dengar, kan?”
Firhan menyadari betul bahwa kekayaan rasa tanah air masih menyisakan banyak cerita yang belum tersampaikan. Rabeg adalah salah satu harta karun yang paling terpinggirkan.
Hidangan berbahan dasar daging kambing dengan kuah berwarna cokelat pekat dan kental ini. Menurutnya, seperti kerabat dekat kari yang telah bertransformasi sedemikian rupa hingga memiliki kepribadiannya sendiri. Namun dengan satu kejutan yang jarang ditemukan dalam gulai atau kari pada umumnya, yaitu cita rasa manis yang legit dan khas.
Baca Juga: Rahasia Sukses Chef Degan Septoadji Membawa Kuliner Nusantara di Traube Tonbach

Menggali lebih dalam ke dalam sejarahnya, Rabeg bukanlah sekadar makanan rumahan yang muncul begitu saja; ia adalah pusaka kuliner yang lahir dari dapur kerajaan. Firhan menyebutkan bahwa keistimewaan Rabeg tidak bisa dilepaskan dari selera tinggi para penguasa Kesultanan Banten.
“Sebenarnya tuh turunnya dia dari kari juga. Cuma dia diubah sedemikian rupa kesukaannya si Sultan,” ujarnya, membuka tabir bahwa hidangan ini pernah menjadi santapan istimewa untuk para bangsawan, yang resepnya kemudian diwariskan dan hingga kini masih dilestarikan oleh warga di wilayah Serang, Banten
Perpaduan antara rempah-rempah yang kaya dengan sentuhan manis itulah yang menjadi ciri khas absolut yang membedakannya dari hidangan kambing lainnya.
Firhan mengungkapkan satu fakta menyedihkan bahwa hidangan sekelas pusaka ini belum begitu dikenal oleh masyarakat di luar tanah kelahirannya, sehingga ia merasa perlu ada terobosan dan gerakan bersama untuk mengangkat martabatnya ke panggung nasional.
Ia mengusulkan sebuah pendekatan yang sangat relevan dengan selera generasi sekarang, yaitu memberikan sentuhan inovasi dalam penyajian tanpa mengkhianati akar tradisi. Ia percaya bahwa rahasia memikat publik baru bukanlah dengan mengubah rasa, melainkan dengan mentransformasi tampilan.
“Kalau makanan Indonesia yang tampilannya sangat sederhana, biasa aku fusion-kan, jadi lebih modern,” tegasnya.
Ia yakin bahwa masakan tradisional yang disajikan dengan gaya yang lebih segar dan estetik akan lebih mudah diterima oleh kalangan masyarakat yang belum familier dengannya. Jangan pernah takut untuk membungkus warisan leluhur dalam kemasan yang kekinian. Hal itu karena pada dasarnya, lidah orang Indonesia (atau bahkan lidah global) akan tetap merasakan denyut rempah yang sama, hanya saja kali ini mereka akan terpikat terlebih dahulu oleh pesona visualnya sebelum akhirnya jatuh hati pada cita rasa historis yang terkandung di dalamnya.
