ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin atau BTC hari ini, Rabu (12/8/2026), kembali menunjukkan pergerakan melemah. Mata uang kripto terbesar di dunia ini gagal mempertahankan level psikologis USD64.000 dan tertekan di kisaran USD63.500.
Pelemahan Bitcoin pada hari ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor yang menekan sentimen pasar. Aset digital ini gagal mempertahankan momentum setelah sempat naik ke level USD64.433,68. Resistance yang kuat di atas level tersebut memicu aksi ambil untung (profit taking) dari trader jangka pendek, yang kemudian mendorong harga turun hingga menyentuh USD63.185,47.
Selain itu, elaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk bulan Juli. Data inflasi ini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan, sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar.
Baca Juga: Bitcoin Masuki Fase Sinyal, Hadapi Ancaman Rantai Ganda
Eskalasi ketegangan AS-Iran serta ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti emas, yang justru melonjak ke USD4.435 per ons, level tertinggi dalam sembilan pekan. Arus dana yang mengalir ke emas ini turut menekan aset berisiko seperti Bitcoin.
Kondisi ini juga terjadi akibat aksi jual dari perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy (d/h MicroStrategy). Para penambang Bitcoin turut menjadi tekanan, meskipun sebagiannya diimbangi oleh arus masuk ke ETF Bitcoin spot.
Bitcoin masih bergerak dalam pola sideways atau konsolidasi di kisaran US$62.000–US$66.000 yang telah berlangsung lebih dari lima minggu. Indeks Fear and Greed (Indeks Ketakutan dan Keserakahan) turun ke level 27, yang masih berada dalam zona “Takut” (Fear). Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS sebagai katalis yang berpotensi mendorong pergerakan signifikan keluar dari rentang konsolidasi ini.

