ASIAWORLDVIEW – Kinerja BCA pada Semester I 2026 mencatat hasil yang solid dengan pertumbuhan di berbagai lini bisnis. Laba bersih mencapai Rp29,5 triliun, naik 3,5% dibanding periode sama tahun lalu. Hal ini didukung oleh ekspansi kredit produktif yang mendorong total kredit menembus Rp1.036 triliun atau tumbuh 8% YoY.
“Kinerja BCA Syariah sebagai bagian dari entitas BCA menunjukkan konsistensi dalam menjaga pertumbuhan kredit dan pendanaan murah (CASA), yang membantu menekan biaya dana. Laba bersih yang meningkat, ditambah dengan ekspansi ke sektor hijau, memperkuat posisi BCA sebagai bank dengan fundamental solid,” sebut Yuli Melati Suryaningrum, Presiden Direktur BCA Syariah.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga naik 7,9% menjadi Rp1.284 triliun, dengan dominasi CASA sebesar Rp1.082 triliun (84,3% dari total DPK), tumbuh 10,2% YoY. Pendapatan non-bunga juga meningkat 11% ke Rp13,2 triliun, menegaskan diversifikasi sumber pendapatan.
Di sisi pembiayaan berkelanjutan, green financing melonjak 19% ke Rp123 triliun, dengan kontribusi besar dari energi baru terbarukan (+82% YoY) dan kendaraan listrik (+25% YoY). Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL di 1,9% dan LAR di 4,9%, menunjukkan manajemen risiko yang efektif. Faktor pendorong utama kinerja ini adalah ekspansi kredit korporasi (+13,6% ke Rp513,4 triliun) serta kredit komersial dan UKM (+6,6% ke Rp288,5 triliun).
Selain itu, inovasi digital melalui pengembangan layanan myBCA—seperti pembukaan rekening efek, pengajuan kartu kredit, dan integrasi pembelian tiket perjalanan—menjadi katalis pertumbuhan.
Pranata, Direktur BCA Syariah memaparkan, BCA Syariah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun, dengan nilai mencapai Rp1.068 triliun pada April 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspansi pembiayaan dan penguatan dana pihak ketiga (DPK).
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
“Di sektor pembiayaan, total nasional mencapai Rp8.865 triliun, sementara BCA Syariah mencatat Rp703 triliun, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 10–12%. Angka ini menunjukkan kemampuan BCA Syariah menjaga momentum ekspansi di tengah perlambatan ekonomi,” ia menambahkan.
Sektor funding atau penghimpunan dana juga memperlihatkan dinamika positif. Dana nasional mencapai Rp10.077 triliun, dan BCA Syariah berhasil meningkatkan porsi CASA (Current Account Saving Account) hingga 58,1%, melampaui rata-rata nasional (58%) dan jauh di atas rata-rata perbankan syariah (53,5%). Hal ini menandakan efisiensi biaya dana yang semakin baik dan keberhasilan strategi digitalisasi layanan perbankan syariah.
Indikator kesehatan bank seperti NPL (Non-Performing Loan) dan NPF (Non-Performing Financing) tetap terjaga di kisaran aman, masing-masing sekitar 2,35% dan 3,65%, menunjukkan kualitas pembiayaan yang stabil. Rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) dan FDR (Financing to Deposit Ratio) juga menunjukkan tren penurunan bertahap, menandakan adanya kehati-hatian dalam ekspansi pembiayaan di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
“BCA Syariah terus memperkuat posisinya sebagai pemain penting di industri perbankan syariah nasional. Dengan pertumbuhan aset, pembiayaan, dan dana yang stabil, serta peningkatan CASA yang signifikan, BCA Syariah menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap dinamika ekonomi dan digitalisasi perbankan,” pungkasnya.
