Rupiah Dibuka Melemah, Sentimen Global dan Beban Fiskal Membayangi

Uang rupiah di dekat tumpukan Dolar AS.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah, Jumat (6/11/2026). Tekanan dialami tampak lebih terbatas dibandingkan pergerakan ekstrem yang terjadi di pasar saham global.

Berdasarkan data, rupiah berada di level Rp18.109 per dolar AS pada pembukaan pagi, melemah sekitar 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan Kamis (5/11) yang berada di Rp18.082.

Melemahnya rupiah hari ini merupakan pembalikan dari penguatan tajam yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis (5/11), rupiah sempat melesat ke Rp18.082 seiring euforia pasar menyambut kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela AS, yang dianggap mengurangi risiko ekspansi fiskal agresif dan memicu penurunan harga minyak dunia . Namun, euforia itu berumur pendek.

Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah kembali tertekan akibat sentimen risk-off global yang berkaitan dengan sektor kecerdasan buatan (AI), dipicu oleh respons negatif investor terhadap hasil pemilu paruh waktu AS.

Investor mulai mencermati bahwa kemenangan Demokrat justru berpotensi menghadirkan regulasi yang lebih ketat terhadap industri AI dan teknologi, memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street yang menjalar ke aset berisiko lainnya, termasuk mata uang negara berkembang .

Meskipun sentimen eksternal menekan, pelemahan rupiah tertahan oleh data fundamental domestik yang kuat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen secara year-on-year, meningkat dari 5,29 persen pada kuartal sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar.

Di balik pergerakan harian, terdapat tekanan struktural yang lebih mendalam terhadap rupiah. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi beban bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Harga WTI naik 2,72 persen ke US$90,52 per barel, sementara Brent naik 3,88 persen ke US$98,29 per barel.

Angka ini jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang dipatok US$70 per barel, dengan asumsi kurs **Rp16.500 per dolar AS. Selisih sekitar US$25 per barel ditambah kurs yang kini berada di Rp18.100 menciptakan tekanan fiskal ganda: pemerintah membutuhkan pembiayaan tambahan untuk menutup selisih beban anggaran.

Tekanan ini diperparah oleh yield obligasi pemerintah yang telah mencapai 7,7 persen, jauh di atas asumsi APBN sebesar 5,9 persen. Dalam perspektif ekonomi, kombinasi antara defisit fiskal yang melebar dan biaya utang yang meningkat memperbesar premi risiko Indonesia di mata investor global, yang pada akhirnya tercermin pada pelemahan rupiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *