IHSG Menguat di Tengah Euforia Global dan Risiko Domestik

Ilustrasi pergerakan harga saham ke zona hijau.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan lonjakan signifikan pada Kamis (5/11/2026), menguat 78,57 poin atau 1,60 persen ke level 4.998,34. Penguatan ini langsung menempatkan indeks di ambang psikologis 5.000, dengan Indeks LQ45 turut melesat 9,16 poin atau 1,83 persen ke posisi 510,40 . Momentum positif ini merupakan kelanjutan dari rebound tipis sehari sebelumnya, di mana IHSG ditutup menguat 0,32 persen ke 4.919,77 setelah sempat terpuruk mendekati level 4.826 pada awal sesi sebelumnya.

Sentimen eksternal menjadi pendorong dominan penguatan IHSG pagi ini. Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilu sela (midterm election) Amerika Serikat telah menghilangkan ketidakpastian politik yang sempat membayangi pasar global . Pasar membaca hasil ini sebagai berkurangnya peluang agenda ekspansi defisit fiskal dan eskalasi konflik geopolitik di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Respons bursa Wall Street pun luar biasa: Dow Jones melonjak sekitar 3,03 persen, S&P 500 naik 1,58 persen, dan Nasdaq menguat 1,44 persen. Efek berganda ini juga terasa pada penurunan harga minyak mentah Brent yang anjlok lebih dari 8 persen ke bawah US$95 per barel, serta pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) dan imbal hasil US Treasury, yang secara langsung meredakan tekanan terhadap mata uang emerging market dan meningkatkan selera risiko investor terhadap aset berisiko seperti saham.

Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Di lantai bursa domestik, penguatan IHSG ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar. Pada perdagangan sebelumnya, BBCA mencatat kenaikan 1,86 persen ke Rp4.930, BBRI naik 1,13 persen ke Rp2.690, dan ANTM melesat 8,33 persen ke Rp2.600 . Sektor barang baku dan keuangan menjadi motor utama penggerak indeks, sementara saham komoditas seperti ANTM dan AADI juga mendapat angin segar dari rebound harga emas yang kembali menguat seiring melemahnya dolar AS . Investor asing tercatat melakukan net buy (beli bersih) signifikan, dengan saham BBCA, ANTM, ASII, TINS, dan TLKM menjadi buruan utama.

Meskipun terjadi penguatan, analis mengingatkan bahwa secara teknikal IHSG masih berada dalam tekanan. Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa IHSG mulai menunjukkan technical rebound setelah menyentuh area support Fibonacci di 4.830–4.761, namun indeks masih bergerak jauh di bawah MA20 (5.420) dengan indikator MACD yang masih berada di area negatif . “Hal ini mengindikasikan tren bearish masih dominan meskipun tekanan jual mulai mereda,” tulis riset tersebut . Untuk perdagangan hari ini, IHSG berpeluang menguji resistance 4.962–5.000; jika gagal menembus area tersebut, risiko pelemahan kembali menuju support 4.830–4.761 masih perlu diwaspadai, dengan resistance berikutnya di 5.137.

Di sisi domestik, pasar masih dibayangi oleh kekhawatiran reklasifikasi MSCI. Mirae Asset Sekuritas menilai bahwa skenario dasar (base case) saat ini adalah Indonesia berpotensi diturunkan menjadi Standalone Market, yang dapat memicu arus keluar dana asing hingga US$8 miliar–US$11 miliar, termasuk sekitar US$3 miliar dari forced passive outflow.

Selain itu, isu penyadapan yang melibatkan pejabat tinggi Polri turut menambah ketidakpastian politik dan persepsi risiko investasi. Pasar juga menantikan rilis data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal III 2026 pada hari ini, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sekitar 5,2 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *