ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis pada Rabu (30/9/2026), setelah sebelumnya tertekan cukup dalam. IHSG dibuka melemah tipis 3,65 poin atau 0,06 persen ke level 6.118,04, yang sekaligus menjadi posisi terendah hari itu.
Namun, tekanan jual tidak bertahan lama. Indeks dengan cepat berbalik arah dan melesat naik, bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6.185,66—menguat 63,67 poin atau 1,04 persen—pada pukul 09.36 WIB, sebelum akhirnya pergerakannya mulai terbatas . Penguatan ini menjadi fase rebound yang ditunggu pasar setelah IHSG mengalami koreksi empat hari beruntun, termasuk penurunan 0,43 persen ke level 6.121,70 pada Selasa, 29 September 2026 .
Sentimen utama yang mendorong rebound IHSG hari ini adalah koreksi tajam harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent turun 2,6 persen menjadi sekitar US$102,59 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 3,5 persen ke US$89,38 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah pemulihan jalur ekspor minyak Timur Tengah yang disebut telah kembali mencapai sekitar 98 persen dari kondisi sebelum konflik, serta rencana Amerika Serikat untuk melepas cadangan minyak strategisnya guna menekan harga bahan bakar . Koreksi harga minyak ini memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia, karena mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan memperbaiki prospek defisit transaksi berjalan Indonesia sebagai net importir minyak.
Baca Juga: ESDM Percepat Eksplorasi Migas, Genjot Produksi Dalam Negeri
Selain itu, muncul sinyal dovish dari The Fed. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan bahwa The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum kembali menaikkan suku bunga, meskipun satu kenaikan tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir 2026. Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap pengetatan moneter yang lebih agresif, yang selama ini menjadi salah satu faktor penekan utama aset berisiko.
Meskipun IHSG berhasil rebound, tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS masih bertahan di level tinggi, dengan tenor 10 tahun berada di sekitar 5,24–5,29 persen—tertinggi sejak 2007—dan tenor 30 tahun menyentuh 5,62 persen, level tertinggi sejak Juni 2002 . Kenaikan yield ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah AS, lonjakan penerbitan surat utang, dan inflasi yang masih tinggi . Indeks dolar AS (DXY) juga masih menguat, yang secara historis menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, nilai tukar rupiah menjadi faktor yang paling disorot. Rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada hari sebelumnya, meskipun pada pembukaan hari ini terpantau menguat tipis. Pelemahan rupiah ini menjadi sentimen negatif yang membayangi pasar saham, karena berpotensi memicu arus modal keluar dan meningkatkan biaya impor bagi perusahaan . Selain itu, investor masih berada dalam fase adaptasi terhadap kebijakan baru BEI terkait batas minimum harga saham Rp1, yang mulai berlaku pada 28 September 2026.
Dari sisi sektoral, mayoritas sektor berada di zona hijau pada awal perdagangan. Sektor industri memimpin penguatan dengan kenaikan 1,96–2,25 persen, diikuti sektor material dasar dan sektor energi yang masing-masing naik sekitar 1,5–1,8 persen . Saham-saham yang menjadi penopang utama IHSG antara lain PT United Tractors Tbk (UNTR) yang naik 4,87 persen ke Rp26.400, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang menguat 2,75 persen ke Rp2.240, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 2,26 persen ke Rp181. Saham bank besar seperti BBRI dan BMRI juga turut mendorong indeks, bersama AMMN dan MORA.
Namun, beberapa saham justru menjadi pemberat. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali anjlok 13,51 persen ke Rp32, melanjutkan tekanan jual yang dialami emiten teknologi tersebut . PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) juga tercatat melemah . Sektor teknologi secara keseluruhan turun 2,33 persen, menjadi sektor dengan kinerja terburuk, sementara sektor transportasi dan logistik melemah 0,9 persen.

