IHSG Dibuka Anjlok 1,48 Persen, Jebol Level Psikologis 5.000

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka melemah tajam dan langsung terperosok ke bawah level psikologis 5.000, pada Jumat (6/11/2026), membalikkan momentum penguatan sehari sebelumnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka turun 74,43 poin atau 1,48 persen ke level 4.955,83 pada pukul 09.00 WIB, jauh di bawah penutupan Kamis (5/11) yang berada di 5.030,26.

Tekanan jual yang terjadi sejak awal perdagangan membuat indeks semakin dalam ke zona merah; hingga pukul 09.24 WIB, IHSG tercatat berada di 4.939,55, terkoreksi 90,71 poin atau 1,80 persen, dengan rentang pergerakan harian antara 4.934,96 hingga 4.969. Pada sesi yang sama, Indeks LQ45 juga ikut tertekan 1,58 persen ke level 505,52, sementara Jakarta Islamic Index (JII) melemah lebih dalam lagi, yaitu 2,81 persen ke posisi 282,24.

Sentimen eksternal menjadi penyebab dominan pelemahan IHSG pagi ini. Pasar saham Amerika Serikat mengalami aksi jual besar-besaran terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah hasil pemilu sela (midterm election) yang memenangkan Partai Demokrat justru memunculkan kekhawatiran baru. Meskipun kemenangan Demokrat sempat memicu reli awal karena dianggap mengurangi risiko kebijakan fiskal agresif, investor kemudian beralih mencermati potensi pengetatan regulasi terhadap industri teknologi, khususnya AI, semikonduktor, dan pembangunan pusat data.

Baca Juga: Menko Airlangga Sebut Pelemahan IHSG Wajar di Tengah Sentimen Negatif MSCI

Tekanan di Wall Street sangat dalam: Nasdaq Composite anjlok 5,5 persen dan resmi masuk wilayah koreksi, S&P 500 turun 4,4 persen, dan Dow Jones melemah 3,4 persen—menjadi kinerja harian terburuk sejak April 2025. Efek contagion ini menjalar cepat ke pasar Asia, dengan Nikkei 225 Jepang ambruk 6,88 persen, Straits Times Singapura turun 2,72 persen, dan Hang Seng Hong Kong melemah 1,94 persen.

Hampir seluruh sektor saham di BEI bergerak di zona merah pada pembukaan. Sektor barang baku memimpin pelemahan dengan koreksi 2,60 persen, disusul sektor infrastruktur turun 2,18 persen dan sektor energi melemah 2,03 persen.

Saham-saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memberikan beban terbesar terhadap IHSG, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) . Di jajaran LQ45, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi top loser dengan penurunan 6,61 persen ke Rp1.555, disusul BRPT yang anjlok 6,04 persen ke Rp855 dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) turun 3,89 persen ke Rp1.360 . Di tengah tekanan yang luas, hanya segelintir saham yang mampu bertahan di zona hijau, seperti PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang naik 1,46 persen dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang menguat 1,15 persen.

Dari dalam negeri, sebenarnya terdapat katalis positif yang belum sepenuhnya mampu menopang pasar. Namun, sentimen positif ini tertutup oleh kekhawatiran menjelang evaluasi MSCI pada 11 November 2026. Pasar masih mencermati langkah BEI memperluas keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas 1 persen, termasuk identifikasi status pengendali dan pihak terafiliasi, yang diharapkan dapat membantu investor menilai struktur kepemilikan secara lebih akurat menjelang evaluasi tersebut.

Selain itu, nilai tukar rupiah juga terpantau melemah 57,70 poin atau 0,32 persen ke posisi Rp18.088,30 per dolar AS, menambah beban bagi pasar saham domestik . Aliran dana asing masih mencatatkan net sell, meskipun skalanya mengecil dibandingkan hari-hari sebelumnya .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *