Skrining TBC Berbasis AI Jangkau 2 Juta Orang, Deteksi Dini Makin Diperkuat

ASIAWORLDVIEW – Deteksi dini tuberkulosis (TBC) bukan sekadar urusan medis di ruang periksa rumah sakit, melainkan bagian dari cara kita menjaga kualitas hidup. Hal itu karena semakin cepat penyakit ini ditemukan, semakin besar peluang seseorang untuk kembali menjalani hari-harinya dengan sehat dan utuh.

Mendukung upaya tersebut, Delft Imaging mengumumkan bahwa lebih dari 2 juta orang di Indonesia telah menjalani skrining TBC menggunakan CAD4TB (Computer-Aided Detection for Tuberculosis), perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI) yang membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi indikasi TBC melalui analisis citra rontgen dada. Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi selama bertahun-tahun dengan penyedia layanan kesehatan, program pemerintah, perusahaan pertambangan, dan mitra pelaksana untuk mempercepat penemuan kasus TBC, sekaligus memperluas awareness dan akses skrining di berbagai wilayah Indonesia.

Upaya mengeliminasi TBC tidak dapat bergantung pada teknologi semata; perluasan skrining harus diiringi dengan pemeriksaan diagnostik lanjutan, akses terhadap pengobatan, serta pendampingan pasien agar kasus yang ditemukan dapat ditangani secara tepat.

Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K), Guru Besar dan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Konsultan Infeksi Paru, menjelaskan, Jumat (4/11/2026), bahwa tantangan penanggulangan TBC di Indonesia tidak hanya terletak pada tingginya jumlah kasus, tetapi juga pada masih adanya kasus yang belum terdeteksi—sebagian orang mungkin belum menyadari gejalanya atau mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, padahal keterlambatan diagnosis dapat meningkatkan risiko penularan.

“Skrining aktif penting untuk menemukan kasus lebih dini, terutama pada kelompok berisiko seperti orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV, serta bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh,” ia mengatakan.

Menurutnya, pemanfaatan AI seperti pada CAD4TB berpotensi memperkuat upaya penemuan kasus TBC secara lebih luas dan efisien—teknologi ini menganalisis citra rontgen dada untuk mengidentifikasi kelainan yang mengindikasikan kemungkinan TBC, membantu tenaga kesehatan menentukan individu yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, dan berpotensi mendukung skrining di wilayah dengan keterbatasan tenaga ahli radiologi.

Baca Juga: Debu dan Polusi Saat Cuaca Panas, Ancaman Tersembunyi bagi Saluran Pernapasan

“Penanggulangan TBC tidak cukup diukur dari jumlah orang yang menjalani skrining, tetapi juga dari tindak lanjut yang mereka terima—setiap orang yang terindikasi TBC perlu mendapatkan akses terhadap pemeriksaan lanjutan, diagnosis yang tepat, dan pengobatan sesuai anjuran, sehingga perluasan skrining harus berjalan beriringan dengan penguatan layanan diagnostik, akses pengobatan, pendampingan pasien, serta kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat,” pungkasnya.

Bagi masyarakat awam, TBC mungkin masih terdengar seperti penyakit masa lalu, padahal realitasnya jauh berbeda: dalam Global Tuberculosis Report 2024, WHO mencatat Indonesia termasuk dalam delapan negara yang secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga kasus TBC global pada 2024, dengan Indonesia sendiri diperkirakan menyumbang sekitar 10% dari total kasus TBC dunia.

Pada 2025, WHO memperkirakan lebih dari satu juta orang mengalami TBC di Indonesia, dengan sekitar 134.000 kematian setiap tahunnya, sementara pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Kementerian Kesehatan RI menyampaikan bahwa setiap menit dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal akibat penyakit ini di Indonesia—angka yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa TBC bukanlah ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Besarnya beban TBC tersebut menegaskan pentingnya memperkuat deteksi dan diagnosis dini, karena keterlambatan dalam menemukan kasus tidak hanya meningkatkan risiko penularan tetapi juga menghambat pasien memperoleh pengobatan tepat waktu.

Guido Geerts, CEO dan Founder Delft Imaging, menyatakan bahwa TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia yang berdampak pada ratusan ribu orang dan keluarga setiap tahunnya, dan meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, eliminasi TBC membutuhkan inovasi berkelanjutan, kolaborasi erat, serta komitmen untuk memperluas akses layanan kesehatan hingga ke komunitas di wilayah terpencil.

Namun, hasil analisis AI tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan dan penilaian tenaga kesehatan sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga penerapannya perlu diimbangi dengan akurasi yang terjaga, infrastruktur memadai, serta kapasitas tenaga kesehatan dalam menggunakannya.

Teknologi CAD4TB dari Delft Imaging yang telah mendukung skrining TBC terhadap lebih dari dua juta orang di Indonesia menunjukkan potensi teknologi berbasis AI dalam mendukung pelaksanaan skrining secara luas sekaligus memperkuat upaya Indonesia meningkatkan deteksi dini dan penanggulangan TBC. Di balik pencapaian ini, Delft Imaging menyadari bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan—investasi berkelanjutan dalam infrastruktur skrining, pengembangan inovasi, serta kerja sama antara sektor publik dan swasta akan menjadi kunci untuk menemukan lebih banyak kasus TBC yang belum terdeteksi dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan tepat waktu.

Pada akhirnya, deteksi dini TBC adalah soal gaya hidup dan kesadaran kolektif: mengenali gejala, tidak menunda pemeriksaan, dan memastikan setiap orang yang terindikasi mendapat tindak lanjut—karena kesehatan yang baik bukan hanya tentang tidak being sakit hari ini, tetapi tentang memastikan hari esok tetap bisa dijalani dengan penuh energi dan harapan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *