ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengalami kejatuhan yang sangat dalam pada Senin (19/10/20206), meneruskan badai koreksi dahsyat dari akhir pekan sebelumnya. IHSG dibuka langsung anjlok 223,23 poin atau 4,31 persen ke level 4.961,88, menembus batas psikologis 5.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2020 di era pandemi Covid-19 . Tekanan jual yang masif langsung terasa sejak awal sesi, dengan seluruh sektor saham di BEI kompak berada di zona merah.
Indeks LQ45 juga ikut terpuruk, turun 28,06 poin atau 5,52 persen ke posisi 480,50. Setelah pembukaan yang mengkhawatirkan itu, IHSG terus meluncur turun hingga menyentuh level terendah harian di 4.907,37, sebelum akhirnya bergerak relatif datar di kisaran 4.920-an hingga penutupan sesi pertama .
Hingga akhir sesi I pada pukul 12.00 WIB, IHSG tercatat berada di level 4.923,26, turun 261,84 poin atau 5,05 persen dari penutupan sebelumnya di 5.185,11 . Data perdagangan menunjukkan dominasi aksi jual yang sangat ekstrem: dari ratusan saham yang diperdagangkan, sebanyak 782 saham melemah, hanya 43 saham yang mampu menguat, dan 138 saham stagnan . Kapitalisasi pasar BEI pun menyusut tajam menjadi sekitar Rp8.720 triliun, menguap sekitar Rp7.288 triliun atau 45,51 persen jika dihitung dari posisi awal tahun yang mencapai Rp16.014 triliun. Volume transaksi tercatat 159,47 juta lot dengan nilai transaksi Rp9.648,8 miliar, mencerminkan kepanikan yang meluas di kalangan pelaku pasar.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 8% Butuh Investasi Jumbo, Pemerintah Siapkan Reformasi Perizinan
Penyebab utama kejatuhan ini tidak lain adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi publik untuk mengkaji potensi penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market . Pengumuman ini keluar pada Jumat, 16 Oktober 2026, dan langsung memicu aksi jual panik yang membuat IHSG ambles 11,57 persen pada hari itu—koreksi harian terdalam dalam hampir tiga dekade terakhir.
MSCI menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai belum terselesaikan, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, serta dugaan praktik perdagangan saham yang terkoordinasi. Ketidakpastian ini meningkatkan risiko arus keluar dana asing dan menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik, sebagaimana diungkapkan Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya .
Dampak dari sentimen ini terlihat jelas pada saham-saham bank jumbo yang menjadi pemberat utama indeks. BBCA anjlok 6,86 persen ke level Rp4.820 dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB), BBRI merosot 6,82 persen ke Rp2.460, BMRI turun 3,24 persen ke Rp3.280, dan BBNI melemah 3,70 persen ke Rp2.860. Saham-saham lain seperti BYAN, TLKM, dan AMMN juga ikut tertekan, sementara sektor infrastruktur menjadi yang paling dalam koreksinya dengan penurunan 6,4 persen, disusul sektor material dasar (-6,2 persen) dan energi (-5,8 persen). Di sisi lain, investor asing tercatat membukukan jual bersih Rp3,19 triliun sepanjang pekan lalu, dengan akumulasi arus keluar dana asing sejak awal tahun mencapai Rp88,19 triliun atau setara 5,06 miliar dolar AS.
BEI bergerak cepat dengan menerapkan batas auto rejection bawah (ARB) sebesar 7 persen, turun dari sebelumnya 15 persen, yang berlaku mulai hari ini hingga 31 Desember 2026 untuk meredam volatilitas pasar dan memberikan waktu bagi investor mencerna informasi. Meskipun demikian, analis menilai tekanan masih akan berlanjut. BNI Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi melemah dengan area support di kisaran 4.900–5.000 dan resistance pada 5.200–5.250 . Sementara itu, BinaArtha Sekuritas memproyeksikan support lebih dalam di level 5.020, 4.895, dan 4.767, dengan indikator MACD yang menunjukkan momentum bearish. Di sisi lain, FTSE Russell tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market, sebuah sinyal positif di tengah badai, namun Pilarmas menekankan bahwa percepatan reformasi pasar modal—mencakup transparansi kepemilikan, ketersediaan data, dan kemudahan akses investor—menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan.


One thought on “IHSG Anjlok 5,05% ke 4.923, Tembus Level Terendah Sejak 2020”