Rupiah Melemah Awal Oktober, Bayangan Rp18.000 Kian Dekat

Rupiah di antara tumpukan USD.

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada pembukaan awal bulan pada Kamis (1/10/2026), bergerak melemah di kisaran Rp17.885 hingga Rp17.922 per dolar AS. Kondisi ini terjadi setelah sehari sebelumnya sempat ditutup menguat cukup signifikan di level Rp17.894.

Pelemahan ini membalikkan momentum positif yang sempat terbangun pada akhir September, dan menegaskan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda. Data dari Bloomberg mencatat rupiah terdepresiasi sekitar 0,14 hingga 0,16 persen atau setara 25-28 poin pada sesi pembukaan, sementara Refinitiv mencatat pelemahan yang sedikit lebih tipis di kisaran 0,08 persen . Meskipun variasi angka antar platform cukup beragam, arah pergerakan tetap konsisten: rupiah kembali berada di bawah tekanan, dan level psikologis Rp18.000 per dolar AS masih menjadi bayangan yang sulit dihindari.

Faktor eksternal menjadi pendorong dominan pelemahan rupiah hari ini. Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) merevisi PDB riil Amerika Serikat Kuartal II-2026 naik menjadi 2,2 persen secara tahunan (annualized). Angkanya jauh melampaui estimasi sebelumnya di angka 1,5 persen. Revisi ini didorong oleh lonjakan konsumsi pribadi menjadi 3,8 persen dan investasi modal yang melesat hingga 9,0 persen, terutama dari masifnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) seperti pembangunan pusat data.

Baca Juga: Defisit Neraca Berjalan Melebar, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa rupiah melemah karena imbal hasil obligasi AS yang kembali naik setelah revisi PDB yang lebih kuat dari perkiraan. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bertahan di level tinggi, bahkan menembus 5,29–5,3 persen—level tertinggi sejak 2007. Kenaikan yield ini membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik, memicu reposisi portofolio global yang menguntungkan Amerika Serikat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelemahan rupiah hari ini bukan fenomena isolasi, melainkan bagian dari tren regional yang lebih luas. Hampir seluruh mata uang Asia tertekan terhadap dolar AS pada sesi yang sama. Yen Jepang mencatat pelemahan terdalam di kawasan dengan penurunan 0,47 persen, diikuti baht Thailand (0,26–0,27 persen), won Korea Selatan (0,26 persen), dolar Taiwan (0,19 persen), dolar Singapura (0,16 persen), peso Filipina (0,13 persen), dan ringgit Malaysia (0,10–0,11 persen).

Mata uang rupee India yang berhasil menguat 0,16 persen dan yuan China yang naik tipis 0,02 persen terhadap dolar AS . Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat di kisaran 101,45–101,48, level tertinggi dalam dua bulan terakhir, mencerminkan dominasi greenback yang masih kuat di pasar global . Dalam konteks ini, pelemahan rupiah dapat dipahami sebagai respons pasar yang wajar terhadap dinamika eksternal, bukan semata-mata cerminan kelemahan fundamental domestik.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi September 2026 dan neraca perdagangan Agustus 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama . Konsensus memperkirakan inflasi tahunan meningkat ke 3,3–3,4 persen dari 3,19 persen pada Agustus, sementara inflasi inti diproyeksikan naik ke 3,0 persen. Untuk neraca perdagangan, surplus Agustus diprakirakan mencapai USD630 juta, membaik dari USD130 juta pada Juli.

Menghadapi tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah melalui bauran intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan NDF sesuai dinamika pasar. BI juga terus bersinergi dengan pemerintah untuk menjaga iklim domestik tetap kondusif dan meredam sentimen negatif dari global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *