IHSG Fluktuatif Awal Oktober 2026, Short Selling Resmi Berlaku di BEI

Ilustrasi pergerakan IHSG.(Unidata)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai bulan Oktober dengan pergerakan yang sangat fluktuatif, dibuka melemah 8,25 poin atau 0,14 persen ke level 6.062,89. Kondisi ini tidak terlalu baik dibandingkan penutupan hari sebelumnya di 6.071,14. Tekanan jual langsung terasa di menit-menit awal, dengan indeks sempat menyentuh level terendah harian di 6.062,81. Namun, pelemahan itu tidak bertahan lama.

IHSG dengan cepat berbalik arah dan bergerak ke zona hijau pada Kamis (1/10/2026), bahkan sempat mencapai level tertinggi di 6.085,17 sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran 6.081 pada pukul 09.02 WIB . Data dari RTI menunjukkan IHSG sempat menguat 0,15 persen ke level 6.080,43, meskipun kemudian kembali melemah tipis 0,12 persen ke 6.064,13 pada pukul 09.10 WIB . Pergerakan dua arah ini mencerminkan betapa rapuhnya sentimen pasar di awal kuartal IV, dengan investor bergulat antara ekspektasi pemulihan dan tekanan eksternal yang masih membayangi.

Baca Juga: Defisit Neraca Berjalan Melebar, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Faktor domestik yang paling dominan mewarnai perdagangan hari ini adalah mulai berlakunya fasilitas transaksi short selling di BEI. Pada tahap awal, baru dua perusahaan sekuritas yang mengantongi izin untuk menyediakan fasilitas tersebut, yakni Semesta Indovest Sekuritas dan Ajaib Sekuritas. BEI juga telah menetapkan lima saham yang dapat ditransaksikan melalui mekanisme short selling pada tahap awal, yaitu PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Investor yang ingin menggunakan fasilitas tersebut harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk telah memiliki rekening efek reguler selama minimal enam bulan dan membuka rekening khusus short selling . Kehadiran short selling ini membuka babak baru dalam dinamika pasar saham Indonesia, memungkinkan investor untuk mengambil posisi jual pada saham-saham tertentu—sebuah mekanisme yang selama ini absen dan kini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta efisiensi pembentukan harga. Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga memicu kekhawatiran akan potensi peningkatan volatilitas, terutama pada saham-saham blue chip yang menjadi target awal.

Selain itu, investor juga menantikan rilis data inflasi domestik September 2026 dan neraca perdagangan Agustus 2026 yang dijadwalkan diumumkan pada hari yang sama . Konsensus memperkirakan inflasi bulanan September meningkat menjadi 0,31 persen, dari 0,21 persen pada Agustus, sementara inflasi tahunan diproyeksikan naik ke 3,3 persen dari 3,19 persen. Untuk inflasi inti, diperkirakan juga meningkat menjadi 3 persen secara tahunan, dari 2,92 persen di bulan Agustus.

Sementara itu, neraca perdagangan Agustus diprakirakan mencatat surplus sekitar USD630 juta, membaik dari USD130 juta pada Juli, meskipun pertumbuhan ekspor diperkirakan melambat menjadi 4,2 persen secara tahunan sementara impor justru berakselerasi tumbuh 31,7 persen . Rangkaian data ini akan menjadi perhatian pasar untuk menilai tekanan eksternal, daya beli domestik, serta ruang kebijakan Bank Indonesia di tengah posisi rupiah yang masih berada pada level lemah.

Sentimen global masih menjadi beban berat bagi IHSG. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang tetap tinggi—terutama tenor 10 tahun yang bertahan di sekitar 5,3 persen—terus menekan aset berisiko di negara berkembang . Kekhawatiran akan potensi kenaikan suku bunga The Fed kembali menguat setelah data inflasi PCE AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang masih persisten, memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi meskipun pasar ekuitas tidak menyukai prospek tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *