ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada Rabu (2/9/2026). Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah dibuka di berbagai level yang sedikit berbeda, mencerminkan volatilitas pasar pada awal perdagangan.
Rupiah dibuka turun 0,15% atau 26 poin ke posisi Rp17.770 per dolar AS. Sementara itu, data Refinitiv mencatat pelemahan yang lebih dalam di awal perdagangan, yaitu sebesar 0,23% ke posisi Rp17.750 per dolar AS. Sumber lain melaporkan rupiah dibuka di level Rp17.761, Rp17.762, dan Rp17.758 per dolar AS. Meskipun terdapat variasi pada angka pembukaan, konsensus yang kuat menunjukkan bahwa rupiah melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah pada hari itu terutama didorong oleh serangkaian sentimen negatif dari faktor eksternal, yang mendominasi pergerakan pasar. Faktor pemicu utamanya adalah eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas pada awal September.
Ketegangan meningkat setelah AS dilaporkan melakukan serangan udara terhadap target-target di Iran, termasuk sebuah acara pernikahan yang mengakibatkan korban jiwa. Konflik ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, yang ditutup naik hampir 5% pada hari sebelumnya. Kenaikan harga energi yang signifikan ini langsung memunculkan kekhawatiran baru akan tekanan inflasi global.
Baca Juga: Risiko Regulatory Capture Ancam Reputasi Dagang RI, Mengapa?
Kekhawatiran inflasi ini kemudian berdampak pada pasar obligasi dan ekspektasi kebijakan moneter. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield obligasi Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Kenaikan yield ini meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan mendorong permintaan terhadap mata uang safe haven.
Hal ini tercermin dari penguatan indeks dolar AS (DXY) yang naik 0,11% ke posisi 99,78. Akibatnya, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve (The Fed) pada bulan September melonjak tajam, dari sebelumnya hanya sekitar 35% menjadi 66%-68%. Pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole semakin memperkuat ekspektasi ini.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri. Faktor domestik juga turut membebani. Surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat semakin mengecil, yang memicu peningkatan permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus perdagangan barang Indonesia hanya sebesar 3,70 miliar dolar AS untuk periode Januari-Juli 2026. Selain itu, tekanan inflasi domestik dinilai masih cukup tinggi. Pada Agustus 2026, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,19% secara tahunan (year-on-year/yoy), berbalik dari deflasi 0,14% pada Juli 2026.
Menghadapi berbagai tekanan ini, para analis memprediksi pergerakan rupiah pada hari itu akan terus melemah, dengan rentang pergerakan yang diperkirakan berada di Rp17.700 hingga Rp17.820 per dolar AS. Pelemahan rupiah juga terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia, menunjukkan bahwa ini adalah fenomena regional yang dipicu oleh penguatan dolar AS secara luas.
Di tengah tekanan ini, pasar juga mencermati strategi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI, Destry Damayanti, memperkirakan bahwa mata uang Garuda akan berada dalam tren menguat pada tahun 2027 dengan kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per dolar AS. Namun, dalam jangka pendek, kombinasi dari ketidakpastian global akibat konflik bersenjata, potensi pengetatan moneter AS, dan fundamental domestik yang melemah diprediksi akan membuat posisi rupiah tetap rentan sepanjang hari itu.

