IHSG Dibuka di Zona Merah, Mayoritas Sektor Melemah

Ilustrasi pergerakan IHSG.(Unidata)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan pekan ini di zona merah pada Senin (27/7/2026), dibayangi oleh kombinasi sentimen domestik dan global yang menekan kepercayaan investor di awal pekan. Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung turun 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80.

Pelemahan ini berlanjut pada sesi pertama, di mana IHSG sempat menyentuh level terendah 6.172 dan pada pukul 09.26 WIB berada di level 6.175,49—turun 0,34 persen. Bahkan, berdasarkan data RTI pukul 9.01 WIB, IHSG sempat turun lebih dalam ke level 6.174,84 atau melemah 0,35 persen (21,58 poin). Volume transaksi tercatat 652,05 juta saham dengan nilai transaksi Rp359,52 miliar pada awal sesi.

Sentimen negatif terbesar pada hari ini datang dari dalam negeri, yaitu pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo yang diumumkan pada pagi hari. Pasar merespons kabar ini dengan cepat karena pergantian kepemimpinan bank sentral berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga prospek suku bunga ke depan. Posisi Gubernur BI untuk sementara digantikan oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.).

Pengamat pasar menilai penunjukan Destry memberikan sinyal bahwa kesinambungan kebijakan moneter tetap terjaga, karena ia merupakan bagian dari perumus kebijakan BI dalam beberapa tahun terakhir. Rupiah pun ikut tertekan, dibuka melemah enam poin atau 0,03% ke posisi Rp17.969 per dolar AS.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Dari sisi global, investor masih mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memasuki tahap perundingan setelah muncul peluang negosiasi baru. Harga minyak dunia terkoreksi setelah Pakistan disebut tengah mempertimbangkan jalur perdamaian yang didorong oleh Tiongkok. Di sisi lain, kebijakan tarif baru AS terhadap produk dari lebih dari 80 negara menambah ketidakpastian di tengah perlambatan ekonomi global.

Pelaku pasar juga bersikap wait and see menjelang sederet agenda ekonomi global pekan ini, termasuk pertemuan The Fed (FOMC) pada 28-29 Juli, keputusan suku bunga Bank of England dan Bank of Japan, serta data inflasi PCE AS dan pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2026.

Pada perdagangan pagi ini, tekanan jual mendominasi dengan sebanyak 239 saham melemah, 189 saham menguat, dan 537 saham stagnan. Mayoritas sektor berada di zona merah, termasuk energi, konsumer non-siklikal, keuangan, bahan baku, infrastruktur, transportasi, dan properti. Hanya sektor konsumer siklikal dan teknologi yang berhasil menguat.

Saham-saham konglomerasi dan bank berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama IHSG. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk, PT Astra International Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk tercatat memberikan tekanan signifikan terhadap indeks.

Analis memproyeksikan IHSG masih akan bergerak dalam fase koreksi. Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut IHSG berpotensi menguji level 6.000 hingga 6.100 apabila sentimen negatif terus berlanjut. Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan area koreksi IHSG berada di kisaran 6.074-6.146, dengan resistance di 6.198-6.222 jika terjadi rebound. Sementara itu, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan level support di 6.137 dan resistance di 6.268. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menyebutkan selama IHSG masih bertahan di atas area support 6.060, tekanan yang terjadi diperkirakan masih berupa koreksi yang wajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *