Harga Bitcoin Terkoreksi Tipis di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

Bitcoin.(Unsplash.com)

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin hari ini, Senin (17/6/2026), berada di kisaran USD 65.687–65.979 atau sekitar Rp 1,16 miliar dengan kurs Rp 17.709. Kapitalisasi pasar tercatat sekitar USD 1,31–1,32 triliun, sementara dalam 24 jam terakhir terjadi penurunan tipis sekitar 0,7–0,9%.

Meski demikian, secara mingguan Bitcoin masih menunjukkan kenaikan sekitar 5,7% dibanding pekan lalu. Pergerakan ini memperlihatkan korelasi kuat dengan indeks S&P 500 (sekitar 71%). Kondisi ini menandakan bahwa faktor makroekonomi global sangat memengaruhi arah harga kripto terbesar ini.

Faktor geopolitik menjadi salah satu penekan utama, kesepakatan damai AS–Iran pada 15 Juni sempat mendorong reli kripto karena menurunkan harga minyak dan risiko inflasi. Namun konflik Lebanon–Israel yang berlanjut kembali menekan optimisme investor sehingga harga Bitcoin turun di bawah USD 66.000.

Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas USD63.000, Data Tenaga Kerja Tekan Sentimen Kripto

Selain itu, pasar tengah menanti hasil rapat Federal Reserve (16–17 Juni 2026) terkait kebijakan suku bunga. Walau probabilitas besar suku bunga tetap, ketidakpastian tetap membayangi. Arus dana dari ETF Bitcoin juga menjadi indikator penting yang memengaruhi tren jangka menengah.

Risiko utama yang membayangi harga Bitcoin saat ini adalah ketidakpastian geopolitik, potensi kenaikan suku bunga mendadak oleh The Fed, serta regulasi kripto di AS dan Uni Eropa.

Namun, prospek jangka menengah masih menunjukkan sentimen bullish berkat arus masuk institusional dan semakin luasnya adopsi produk kripto di sektor keuangan. Jika konflik mereda, Bitcoin berpotensi kembali menembus level psikologis USD 70.000.

Jika dibandingkan dengan kripto lain, Ethereum (ETH) berada di USD 1.793 dengan kenaikan 0,32%, sementara BNB turun 1,83% ke USD 605. XRP melemah 1,65% ke USD 1,21, dan Solana (SOL) relatif stabil di USD 73,7. Menariknya, Hyperliquid (HYPE) justru melonjak 10,42% ke USD 73,6, menunjukkan adanya pergeseran minat investor ke aset alternatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *