Stres Bisa Memicu Migrain dan Sakit Kepala, Mengapa?

Migrane

ASIAWORLDVIEW – Saat seseorang mengalami stres, tubuh akan memicu serangkaian respons fisiologis yang dapat berujung pada sakit kepala atau bahkan serangan migrain. Stres menyebabkan pelepasan hormon seperti kortisol dan adrenalin, yang mengubah cara otak dan sistem saraf bekerja.

Perubahan ini dapat memengaruhi aktivitas listrik otak dan memicu fenomena cortical spreading depression, yaitu gelombang listrik abnormal yang mengganggu fungsi saraf. Selain itu, stres juga mengaktifkan saraf trigeminal, yang berperan besar dalam menghantarkan sensasi nyeri kepala, mengutip Health, Selasa (17/6/2026).

Aktivasi saraf ini memicu pelepasan zat kimia seperti serotonin dan neuropeptida lain, yang membuat pembuluh darah otak melebar dan saraf menjadi lebih sensitif. Akibatnya, timbul inflamasi lokal di sekitar pembuluh darah otak, menghasilkan rasa nyeri berdenyut khas migrain.

Baca Juga: Riset: Kopi Bermanfaat untuk Cegah Stres dan Kecemasan

Saraf menjadi lebih sensitif, dan akhirnya menimbulkan inflamasi lokal di sekitar pembuluh darah otak. Proses inilah yang menghasilkan rasa nyeri khas migrain, biasanya berdenyut dan berlangsung lama.

Selain mekanisme biologis, migrain juga dipengaruhi oleh berbagai faktor pemicu. Genetik berperan besar, karena migrain sering diturunkan dalam keluarga; jika salah satu orang tua mengalami migrain, anak memiliki risiko tinggi untuk mengalaminya. Hormonal juga menjadi faktor penting, terutama pada perempuan, di mana fluktuasi estrogen saat menstruasi, kehamilan, atau perimenopause sering memicu serangan.

Faktor lingkungan seperti stres, kurang tidur, perubahan cuaca, cahaya terang, suara bising, atau bau menyengat dapat memperburuk kondisi. Sementara itu, gaya hidup seperti konsumsi alkohol (terutama anggur merah), kafein berlebihan, melewatkan makan, atau mengonsumsi makanan tertentu seperti keju tua dan makanan olahan juga terbukti menjadi pemicu.

Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis dan eksternal. Karena sifatnya multifaktor, pengelolaan migrain tidak hanya bergantung pada obat pereda nyeri, tetapi juga pada strategi pencegahan seperti menjaga pola tidur, mengelola stres, menghindari pemicu makanan, serta memperhatikan keseimbangan hormon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *