ASIAWORLDVIEW – Indonesia Crypto Outlook (ICO) 2026 menjadi penanda fase pendewasaan ekosistem kripto nasional, di mana diskursus tidak lagi berkutat pada spekulasi semata, melainkan pada fondasi ekonomi. Tata kelola, dan kontribusinya terhadap sistem keuangan yang lebih luas.
Acara yang diselenggarakan Tokocrypto hari ini, Kamis (29/1/2026), menghadirkan ruang dialog strategis bagi regulator, pelaku industri, dan investor untuk membaca arah industri kripto Indonesia di tengah dinamika global. Apalagi masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana menekankan bahwa pasar kripto Indonesia sedang berada di titik balik penting dengan potensi pertumbuhan investor yang sangat besar. Ia menyebutkan bahwa penetrasi investor kripto di Indonesia baru sekitar 7% dari total populasi, meskipun secara jumlah absolut Indonesia sudah termasuk salah satu pasar kripto terbesar di dunia.
“Psar kripto di Indonesia memperlihatkan tren positif. Jumlah investor kripto nasional bisa bertambah sekitar 7 hingga 8 juta orang, sehingga totalnya berpotensi mendekati 26 hingga 27 juta investor. Sementara dalam skenario moderat, penambahan sekitar 4 hingga 5 juta investor akan mendorong total investor berada di kisaran 23 sampai 24 juta hingga akhir 2026,” ia menyebutkan.
Baca Juga: CEO Indodax: Transaksi Kripto Lokal Belum Optimal, Banyak Mengalir ke Ekosistem Global
Menurutnya, angka ini menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas, terutama dengan semakin jelasnya regulasi dari OJK dan Bappebti. Selain itu, meningkatnya minat generasi muda terhadap aset digital.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mencatat jumlah investor kripto Indonesia telah melampaui 19 juta per Oktober 2025 menjadi indikator kuat bahwa aset kripto telah bertransformasi menjadi instrumen investasi alternatif yang signifikan. Dari perspektif ekonomi, angka ini mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap aset digital yang menawarkan akses lebih inklusif, likuiditas tinggi, serta keterhubungan langsung dengan pasar global.
“Pentingnya edukasi, transparansi, dan inovasi agar kripto tidak hanya menjadi tren spekulatif, tetapi benar-benar menjadi bagian dari transformasi keuangan digital Indonesia,” pungkasnya.
ICO 2026 menyoroti kondisi makroekonomi global yang relatif kondusif setelah kebijakan The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Keputusan ini memberikan sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk kripto. Bitcoin menunjukkan stabilitas dalam jangka pendek, mencerminkan perannya yang semakin mapan sebagai aset lindung nilai alternatif di tengah ketidakpastian.
Sementara itu, sejumlah altcoin seperti Worldcoin (WLD), Synapse (SYN), dan Jito (JTO) mencatat penguatan. Kondisi tersebut menandakan adanya peluang reli pemulihan seiring meningkatnya minat investor terhadap proyek berbasis utilitas dan infrastruktur blockchain.
