ASIAWORLDVIEW – Tren meme coin supercycle sempat menghidupkan kembali pasar yang lesu. Namun bagi smart money, ini bukan sekadar hype melainkan peluang jangka pendek yang harus disikapi dengan cepat dan penuh kalkulasi. Mereka masuk saat antusiasme pasar sedang tinggi, lalu segera keluar ketika sinyal mulai melemah.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa meme coin tetap bisa menjadi ladang cuan, tapi bukan untuk sembarang orang. Dibutuhkan kepekaan terhadap pergerakan pasar dan kemampuan membaca momen dengan tepat agar bisa memaksimalkan potensi dan meminimalkan risiko.
Salah satu bukti nyata bahwa meme coin masih menyimpan potensi luar biasa datang dari seorang trader yang berhasil mengubah modal awal sebesar USD2.000 menjadi USD43 juta hanya dari token PEPE. Meski tidak menjual di puncak harga, ia tetap mencetak keuntungan realisasi lebih dari $10 juta bahkan setelah harga PEPE turun lebih dari 70% dari level tertingginya.
Namun, tidak semua peluncuran meme coin berakhir manis. Ketika token TRUMP resmi diluncurkan pada 18 Januari lalu, banyak yang melihatnya sebagai titik balik dari euforia meme coin.
Baca Juga: Pasar Meme Coin Anjlok, Apa Penyebabnya?
Token TRUMP sempat menyentuh harga puncak USD75,35 sehari setelah peluncurannya. Namun hingga kini, token tersebut telah kehilangan lebih dari 87% nilainya dan terus terkoreksi dalam sepekan terakhir.
Di sisi lain platform Pump.fun, yang menjadi tempat lahirnya lebih dari 70% token memecoin di jaringan Solana, mengalami penurunan signifikan dalam aktivitas setelah pekan pelantikan Trump.
Jumlah dompet aktif mingguan di platform tersebut merosot dari 2,85 juta menjadi hanya 1,44 juta dalam kurun waktu dua bulan.
Penurunan ini menandakan bahwa semangat pasar mulai surut, diperparah oleh dugaan praktik insider trading pada beberapa token besar lainnya seperti $MELANIA dan $LIBRA.
Di luar dinamika internal pasar kripto, faktor eksternal juga turut menekan minat investor terhadap aset spekulatif seperti memecoin. Ketidakpastian ekonomi global, volatilitas yang dipicu oleh kebijakan tarif internasional, serta ketegangan geopolitik membuat investor semakin selektif dalam menempatkan dananya.
