Tekanan Global dan Geopolitik Bikin Rupiah Tertekan ke Rp17.783

Tumpukan uang Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menunjukkan pelemahan di pasar spot, Senin (21/9/2026). Kondisi ini melanjutkan tren negatif yang terjadi pada akhir pekan sebelumnya. Rupiah dibuka melemah 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.783 per dolar AS, turun dari posisi penutupan Jumat (18/9/2026) di level Rp17.758 per dolar AS.

Data dari berbagai sumber menunjukkan variasi level pembukaan yang tipis. Rupiah berada di Rp17.786, sementara Refinitiv mencatat pelemahan 0,28 persen ke Rp17.780 per dolar AS. Hingga pukul 09.11 WIB, rupiah spot tercatat di level Rp17.779 per dolar AS, mengonfirmasi bahwa tekanan jual terhadap mata uang domestik masih berlanjut pada awal pekan ini.

Pelemahan rupiah hari itu dipicu oleh faktor eksternal yang dominan, terutama kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang hampir menyentuh level 5 persen. Kenaikan ini merupakan konsekuensi langsung dari keputusan The Federal Reserve yang menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75–4,00 persen pada pekan sebelumnya.

Baca Juga: PNBP Lampaui 94,8% Target, Surplus BI Lunasi Utang Krisis 1998

Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa “rupiah diprakirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS” karena tekanan dari imbal hasil obligasi AS yang tinggi. Kondisi ini mendorong investor global untuk memindahkan dana ke aset berdenominasi dolar AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bergerak stabil di level 100,217–100,26, mencerminkan posisi dolar AS yang masih kokoh.

Selain faktor moneter global, sentimen geopolitik juga menjadi penekan tambahan bagi rupiah. Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar, dengan dinamika konflik yang bergeser dari Selat Hormuz menuju Laut Merah dan Selat Al-Mandeb. Meningkatnya aktivitas diplomatik China, di mana Menteri Luar Negeri Wang Yi mendesak Washington dan Teheran untuk menahan diri, serta konsultasi Wakil Menteri Luar Negeri Iran dengan pejabat China dan Pakistan, menambah lapisan ketidakpastian yang membebani aset berisiko dan mata uang pasar berkembang. Ketegangan ini mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, memperkuat tekanan depresiasi terhadap rupiah.

Dari sisi domestik, pasar keuangan Indonesia tengah menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mencatat bahwa “perhatian bergeser dari keputusan the Fed ke dampaknya terhadap Indonesia, terutama ke rupiah dan respons Bank Indonesia”. Stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor utama yang membatasi ruang kebijakan BI, sehingga keputusan suku bunga dalam RDG tersebut akan sangat krusial dalam menentukan arah rupiah ke depan. Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.700–Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari itu, sementara Rully Arya Wisnubroto memproyeksikan kisaran Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS, mencerminkan ekspektasi bahwa volatilitas akan tetap tinggi menjelang pengumuman kebijakan BI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *