ASIAWORLDVIEW – Ketua Asosiasi Industri Startup Indonesia (STARFINDO) yang baru terpilih, baru saja mendarat di Shenzhen, Tiongkok, pada Rabu (2/9/2026), waktu setempat. Bukan sekadar partisipasi diplomatik simbolis, melainkan langkah kunci bagi Indonesia dalam upaya mencapai lompatan strategis di rantai nilai ekonomi digital global. Ia juga mengulik dan mengagumi kecanggihan kota yang terpilih menjadi tuan rumah APEC 2026.
Kunjungan ini juga memperlihatkan bagaimana Shenzhen telah menjelma menjadi laboratorium hidup bagi teknologi masa depan. Terlihat jelas integrasi antara industri, riset, dan kebijakan publik berjalan harmonis. Momentum APEC 2026 menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk memperluas jejaring internasional, memperkuat diplomasi ekonomi, dan memastikan bahwa transformasi digital nasional tidak tertinggal dari arus globalisasi teknologi.
“Pengalaman pembangunan Shenzhen menunjukkan bahwa suatu perekonomian perlu memenuhi tiga syarat sekaligus untuk naik dari segmen bawah ke segmen atas dalam rantai nilai global: rantai pasokan perangkat keras yang lengkap, ketersediaan insinyur yang melimpah, serta lingkungan kelembagaan yang mampu mengubah hasil penelitian laboratorium menjadi produk komersial dengan cepat,” ia mengatakan kepada Asia World View.
Baca Juga: Maulana Wiga Wakili Indonesia Berkunjung ke Shenzhen, Mengulik Kecanggihan Tuan Rumah APEC 2026
Indonesia memiliki pasar yang sangat besar dengan 270 juta penduduk, sumber daya alam yang melimpah, dan generasi muda digital native yang terus bertambah. Namun masih terdapat kesenjangan yang signifikan dalam hal penelitian dan pengembangan teknologi keras, manufaktur presisi, serta integrasi rantai pasokan.
“Ide menjadi produk di Shenzhen memberikan contoh dalam pengembangan yang dapat dijadikan acuan bagi perusahaan rintisan Indonesia, bukan sekadar pengenalan teknologi, melainkan pembangunan kapasitas di tingkat ekosistem,” ia menambahkan.
Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia. Sementara Indonesia merupakan tujuan investasi terbesar kedua Tiongkok di ASEAN. Di bawah kerangka APEC, Indonesia telah dua kali menjadi tuan rumah dan merupakan peserta penting dalam kerja sama ekonomi kawasan Asia-Pasifik.
Shenzhen, sebagai tuan rumah APEC, tidak hanya memamerkan teknologinya, tetapi juga peta jalan tentang bagaimana sebuah ekonomi inovatif yang utuh dapat terintegrasi ke dalam rantai nilai regional. Bagi Indonesia, hal ini berarti tidak hanya menjadi konsumen teknologi dan produk, tetapi juga menjadi peserta aktif dalam pembagian kerja industri regional.
Bagi Maulana Wiga dan ekosistem startup Indonesia yang diwakilinya, kunjungan ke Shenzhen tidak boleh berhenti pada sekadar mengamati dan mengagumi. Selain itu, menjadi kesempatan untuk mengetahui bagaimana cara bertransformasi dalam tata kelola ekonomi digital regional.
