Saham Teknologi Dorong Reli IHSG, Indeks Sentuh Level 6.203

Pergerakan pasar saham memasuki zona hijau.(Adobe)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan momentum positif pada Selasa (6/10/2026), dengan dibuka menguat 20,27 poin atau 0,33 persen ke level 6.139,13. Kondisi ini sejalan dengan penguatan mayoritas bursa saham Asia yang terdorong oleh reli saham teknologi di Wall Street.

Indeks LQ45 juga ikut menguat 2,23 poin atau 0,37 persen ke posisi 605,46, mencerminkan perbaikan sentimen yang merata di saham-saham unggulan. Penguatan ini menjadi fase rebound yang ditunggu setelah IHSG ditutup menguat 1,36 persen ke level 6.118,86 pada Senin (5/10), dengan 547 saham menguat dan 252 saham stagnan.

Memasuki sesi pagi, IHSG bergerak menguat secara bertahap dan mencapai level tertinggi di 6.186,96 pada pukul 10.12 WIB, dengan kenaikan 61,57 poin atau 1,01 persen ke level 6.180,43. Setelah sempat terkoreksi tipis, indeks kembali naik dan bertahan di kisaran 6.177 pada pertengahan sesi.

Hingga akhir sesi I, IHSG berada di level 6.196,09, naik 77,23 poin atau 1,26 persen, dengan level tertinggi intraday mencapai 6.203,70. Volume transaksi tercatat sebanyak 286,1 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp5.619,6 miliar atau sekitar Rp5,62 triliun. Dari sisi aktivitas perdagangan, mayoritas saham bergerak positif dengan 383 saham menguat, 198 saham melemah, dan 182 saham stagnan pada awal sesi.

Baca Juga: Kemenperin Dorong Hilirisasi, Industri Kopi Nasional Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Faktor dominan yang mendorong penguatan IHSG hari ini adalah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (Nonfarm Payrolls) untuk September 2026 yang jauh lebih lemah dari perkiraan. Ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi 90.000, dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2 persen dari sebelumnya 4,1 persen. Pertumbuhan upah juga melambat, yang membuat pasar menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan The Fed 28 Oktober 2026 turun menjadi 21,6 persen dari 22,1 persen pada hari sebelumnya. Selain itu, meredanya kenaikan harga minyak mentah global juga menjadi sentimen positif bagi pasar negara berkembang. Penurunan harga minyak terjadi setelah negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barrel minyak mentah dan produk BBM dari cadangan darurat selama empat bulan, ditambah dengan pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah.

Dari sisi sektoral, seluruh 11 indeks sektoral bergerak di zona hijau pada awal perdagangan. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 3,08 persen, disusul sektor teknologi yang naik 2,1 persen dan sektor industri yang menguat 1,6 persen. Saham-saham yang menjadi pendorong utama IHSG antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Saham GOTO mencatat lonjakan signifikan 10,34 persen ke level Rp32 per saham pada awal perdagangan, menjadikannya salah satu penguat terbesar di jajaran LQ45. Sementara itu, beberapa saham bergerak di zona merah dan menjadi penekan IHSG, antara lain PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO).

Dari perspektif teknikal, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai IHSG dalam fase rebound dengan pola upward bar yang mulai terbentuk, didukung indikator Stochastic K_D serta Relative Strength Index (RSI) yang menunjukkan sinyal positif. “Untuk perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, sentimen IHSG masih cenderung positif dengan peluang melanjutkan technical rebound,” ujar Nafan. Ia mencatat level support IHSG berada pada 5.973–5.851, sementara area resistance berada di 6.180 dan 6.339. BRI Danareksa Sekuritas melihat posisi resistance IHSG berada pada area 6.185–6.240; jika mampu menembus posisi itu, indeks bisa lanjut naik menuju level 6.319. Sementara, level support berada di 6.019, dengan support berikutnya di 5.854. Indikator MACD juga menunjukkan kondisi bearish, namun histogram MACD mulai menyempit yang mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, membuka peluang technical rebound. Sinarmas Sekuritas memproyeksikan IHSG berpeluang menguji resistance 6.187 dengan next resistance di level 6.227, serta mewaspadai area support terdekat di rentang 6.019–5.973 hingga 5.898.

Dari sisi sentimen domestik, bulan Oktober menjadi periode yang cenderung positif bagi IHSG. Dalam enam tahun terakhir, IHSG menguat pada lima periode Oktober dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,69 persen. Sentimen lain adalah musim rilis laporan keuangan kuartal III 2026, di mana sejumlah perusahaan mulai memasuki periode publikasi kinerja keuangan kuartal III. OJK juga menyampaikan bahwa terdapat 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga September telah mencapai Rp186,03 triliun, dengan target sepanjang 2026 sebesar Rp250 triliun. Antrean tersebut menunjukkan perusahaan masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan, meskipun nilai indikatif belum merupakan dana yang terealisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *