ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada Senin (26/10/2026), dan terus tertekan hingga menembus level psikologis Rp18.100 per dolar AS. Berdasarkan data, rupiah dibuka pada level Rp18.089 per dolar AS, melemah 9 poin atau 0,05% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp18.080.
Tekanan jual terhadap mata uang Garuda semakin dalam seiring berjalannya sesi pagi; pada pukul 09.30 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp18.101, dan menjelang pukul 11.00 WIB, dolar AS sudah menyentuh Rp18.120. Sumber lain mencatat pembukaan yang bervariasi, dengan data Refinitiv menunjukkan level Rp18.050 dan data analisis Doo Financial Futures mencatat Rp18.084, namun arah pergerakan secara konsisten menunjukkan pelemahan.
Pelemahan rupiah hari ini didorong oleh kombinasi dua faktor utama yang saling memperkuat. Pertama, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak dunia hingga bertahan di atas US$100 per barel, yang secara langsung meningkatkan beban impor energi Indonesia dan menekan neraca perdagangan.
Selain itu, aliran dana asing keluar (capital outflow) dari pasar ekuitas domestik masih terus berlanjut, dengan data Bursa Efek Indonesia mencatat outflow mencapai Rp94,87 triliun hingga 23 Oktober 2026.
Baca Juga: Bank Indonesia Jamin Fluktuasi Rupiah Masih Terkendali Meski Pasar Diguncang Isu MSCI
Analis pasar dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah masih melemah di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah dan outflow dana asing di pasar saham domestik yang terus membebani . Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS pada perdagangan hari ini .
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,17% ke posisi 101,636 pada pukul 09.00 WIB, namun pelemahan indeks dolar ini tidak cukup membantu rupiah karena tekanan domestik dan regional lebih dominan . Untuk memberikan konteks, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat, 23 Oktober 2026, berada di level Rp18.069 per dolar AS, turun 0,12% secara harian.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya telah terakumulasi sejak pertengahan Oktober, ketika Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan reklasifikasi pasar modal Indonesia yang memicu gejolak di pasar keuangan domestik, dan Bank Indonesia menyatakan tengah menyiapkan langkah-langkah untuk menstabilkan rupiah . Dengan demikian, pergerakan rupiah pada 26 Oktober 2026 mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dari harga minyak dan geopolitik dengan tekanan internal dari arus modal asing, yang bersama-sama mendorong mata uang Garuda ke level terlemahnya dalam periode ini dan menempatkan bank sentral pada posisi yang menuntut kewaspadaan tinggi.

