ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin berada di sekitar ambang psikologis krusial US$80.000 pada Senin (26/10/2026), dengan pergerakan yang menunjukkan volatilitas tinggi dan tekanan jual yang masih dominan. Berdasarkan data dari berbagai platform perdagangan pada pagi hari waktu setempat, Bitcoin tercatat diperdagangkan di kisaran US$79.940 hingga US$80.460, mencerminkan posisi yang rapuh setelah melewati akhir pekan yang penuh gejolak.
Angka ini merupakan hasil dari serangkaian penurunan yang dimulai sejak akhir pekan, di mana Bitcoin sempat menyentuh level terendahnya dalam lebih dari sebulan di angka US$79.146 pada hari Sabtu sebelum akhirnya berhasil bangkit kembali di atas US$80.000 pada hari Minggu.
Dari perspektif teknikal, posisi Bitcoin saat ini berada di bawah semua rata-rata pergerakan jangka pendeknya, termasuk moving average 7, 20, dan 50 hari, yang mengindikasikan bahwa tekanan jual masih menguasai pasar. Analis mengamati bahwa level US$80.000 kini telah berubah menjadi medan pertempuran antara bull dan bear, dengan support penting berada di kisaran US$79.600 hingga US$80.000.
Baca Juga: Industri Kripto Usulkan Tarif PPh Transaksi Turun Jadi 0,1%
Jika level ini jebol, maka potensi penurunan lebih lanjut ke area US$78.000 hingga US$78.600 menjadi terbuka lebar. Sebaliknya, untuk mengonfirmasi kembalinya momentum bullish, Bitcoin perlu menembus dan bertahan di atas resistance 80.900 hingga US$81.000, yang saat ini masih menjadi tembok tebal yang sulit ditembus.
Sentimen pasar secara keseluruhan masih diliputi oleh sikap hati-hati menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan pada 27-28 Oktober. Pelaku pasar sebagian besar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan kali ini, namun ekspektasi akan kenaikan suku bunga pada bulan Desember masih cukup tinggi, sekitar 80% menurut data Reuters. Prospek suku bunga tinggi yang berkelanjutan ini menjadi angin sakal bagi aset berisiko seperti Bitcoin, terlebih lagi dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang berada di sekitar level 5%, membuat daya tarik aset safe-haven dengan pendapatan tetap semakin kuat dan menggerus minat terhadap investasi spekulatif.
Selain itu, faktor geopolitik seperti ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi harga minyak juga turut menambah beban psikologis bagi pasar kripto, karena kekhawatiran akan inflasi yang lebih persisten dapat memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Meskipun demikian, terdapat beberapa sinyal yang memberikan harapan bagi para pemegang Bitcoin. Indeks Fear and Greed saat ini berada di angka 50, yang mencerminkan sentimen netral dan bukan kepanikan massal. Analisis dari Glassnode juga menunjukkan bahwa rata-rata harga perolehan ETF Bitcoin spot AS berada di sekitar US$81.500, yang berarti bahwa saat ini sebagian besar investor ETF sedang mengalami kerugian di atas kertas, dan hal ini dapat memicu sensitivitas arus kas yang lebih tinggi terhadap fluktuasi harga lebih lanjut.

