ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mencatat kinerja yang berbalik arah secara dramatis pada Senin (26/10/2026). Setelah dibuka menguat tipis di level 5.442,30, indeks tidak mampu mempertahankan momentum dan terperosok ke zona merah, mengakhiri sesi pertama di level 5.384,97 atau turun 54,29 poin (1%).
Pelemahan ini menjadi cerminan nyata dari tekanan eksternal yang tengah membayangi pasar modal domestik, terutama sentimen global yang dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah di atas US$100 per barel akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta sikap hati-hati investor menjelang rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve pada 28-29 Oktober 2026.
Perjalanan IHSG sepanjang sesi pagi menunjukkan volatilitas yang tinggi. Indeks sempat menyentuh titik tertinggi harian di 5.453,65 pada awal perdagangan, namun tekanan jual yang muncul secara agresif menjelang pukul 10.00 WIB membuat indeks terperosok ke level terendah harian di 5.349,75—terkoreksi lebih dari 89 poin dari puncaknya.
Memasuki sesi siang, IHSG bergerak sempit di rentang 5.370 hingga 5.390 sebelum bertahan di level 5.385, dengan total volume transaksi tercatat sebanyak 181,92 juta lot dan nilai transaksi mencapai Rp7.245,52 miliar. Pelemahan ini tidak berdiri sendiri; bursa saham regional Asia juga dibuka melemah, dengan indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,50%, SSE Composite China terkoreksi 0,53%, dan Straits Times Singapura melemah 0,14%, menciptakan atmosfer risk-off yang merata di kawasan. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga tercatat melemah 63 poin (0,35%) ke level Rp18.088,60 per dolar AS, menambah beban psikologis bagi pelaku pasar domestik.
Baca Juga: IHSG Fluktuatif Menguat, Upaya Rebound di Tengah Bayang-Bayang Tekanan Global
Meskipun demikian, terdapat sejumlah faktor domestik yang sebenarnya berpotensi menjadi penopang. Penguatan IHSG sebesar 4,90% pada pekan sebelumnya pascapengumuman MSCI masih menyisakan optimisme, ditopang oleh kinerja positif saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) dan aksi buyback yang dilakukan sejumlah emiten.
Rencana perubahan definisi dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi yang memberikan ruang lebih luas bagi entitas pengelola dana publik untuk berinvestasi di instrumen saham juga menjadi katalis positif yang dapat mendorong lembaga seperti BPJS dan Taspen meningkatkan alokasi investasinya. Namun, arus keluar dana asing (capital outflow) masih menjadi duri dalam daging: investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp1,62 triliun, dengan saham BBCA, BBRI, BBNI, GOTO, dan BRIS menjadi yang paling banyak dilepas. Analis dari Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk menguji level resistensi 5.500-5.600, tetapi mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak, koreksi harga emas, dan depresiasi rupiah perlu dicermati secara saksama.
Pergerakan IHSG pada 26 Oktober 2026 bukan sekadar angka merah di layar perdagangan, melainkan potret dari tarik-menarik antara optimisme reformasi pasar modal domestik dan tekanan eksternal yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda—sebuah dinamika yang menuntut investor untuk tetap waspada dan selektif dalam mengambil posisi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

