ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif pada Jumat (23/10/2026) dengan kecenderungan menguat. Kondisi ini melanjutkan reli pemulihan yang telah berlangsung selama empat sesi berturut-turut pasca koreksi tajam pada pekan sebelumnya.
IHSG dibuka menguat 9,44 poin atau 0,18 persen ke level 5.397,34, dengan Indeks LQ45 naik tipis 0,56 poin atau 0,10 persen ke posisi 545,13. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama; tak lama setelah pembukaan, IHSG berbalik arah melemah ke zona merah dan sempat menyentuh level terendah harian di 5.366,29, atau melemah sekitar 0,40 persen. Tekanan jual ini sempat diperparah oleh pelemahan saham-saham bank besar seperti BMRI, BBRI, dan TLKM yang dibuka di zona merah .
Meski demikian, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. IHSG kembali bangkit dan melanjutkan penguatan hingga mencapai level tertinggi harian di 5.451,54, atau menguat 1,18 persen. Pada pukul 10.24 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.449,09, naik 61,18 poin atau 1,14 persen. Penguatan ini ditopang oleh mayoritas sektor, dengan sektor barang konsumen primer memimpin kenaikan sebesar 1,13 persen, disusul sektor infrastruktur, energi, perindustrian, dan properti. Dari sisi saham, AKRA dan ADMR memimpin penguatan di jajaran LQ45 dengan kenaikan masing-masing 3,03 persen dan 2,77 persen, sementara ASII naik 2,47 persen.
Baca Juga: Dari Pasar Domestik ke Global, Brand Lokal Punya Peluang Naik Kelas
Sentimen positif utama yang mendorong rebound ini adalah langkah reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang direspons baik oleh pasar. BEI akan mengecualikan saham-saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026, sebuah kebijakan yang menyasar kekhawatiran MSCI terkait konsentrasi kepemilikan dan transparansi pasar.
Langkah ini melengkapi upaya sebelumnya, termasuk rencana perluasan pengungkapan afiliasi pemegang saham di atas 1 persen, yang diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor terhadap integritas indeks . Selain itu, program buyback saham yang dilakukan sejumlah emiten besar, termasuk bank-bank, turut menopang harga saham yang sebelumnya tertekan dan mendukung pemulihan valuasi di tengah gejolak pasar.
Namun, di balik penguatan tersebut, sejumlah risiko masih membayangi. Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp1,47 triliun pada perdagangan Kamis (22/10), menandakan bahwa tekanan arus dana asing belum sepenuhnya mereda . Secara teknikal, analis dari Phintraco Sekuritas mengingatkan bahwa IHSG telah mengalami rebound selama tiga hari berturut-turut, sehingga investor perlu mewaspadai potensi aksi ambil untung pada akhir pekan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kenaikan harga minyak Brent sebesar 4 persen ke level US$113 per barel juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter, yang pada akhirnya dapat menekan pasar saham dan obligasi. Dari sisi teknikal, level 5.400 menjadi resistance kunci yang harus ditembus dan dipertahankan untuk melanjutkan penguatan, dengan resistance lanjutan di 5.450.
Sementara support terdekat berada di 5.300, dan jika jebol, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di 5.180–5.200. Secara keseluruhan, perdagangan 23 Oktober 2026 mencerminkan fase pemulihan yang rapuh namun penuh harapan, di mana reformasi struktural dan aksi beli selektif berhasil mengangkat indeks dari keterpurukan, tetapi ketidakpastian eksternal dan arus modal asing yang belum kembali menuntut kehati-hatian ekstra dari pelaku pasar.
