ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menembus level psikologis Rp18.000 pada Jumat (16/10/2026), menandai babak baru pelemahan yang dipicu oleh badai sentimen negatif dari luar dan dalam negeri. Rupiah dibuka melemah 83 poin atau 0,46 persen ke level Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.938 .
Tekanan jual tidak berhenti di situ; dalam hitungan menit, rupiah terus merosot hingga menyentuh Rp18.070 pada pukul 09.22 WIB. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan ke Rp17.948, turun dari posisi sebelumnya Rp17.898, mengonfirmasi bahwa tekanan ini bersifat sistemik dan tidak hanya terjadi di pasar spot .
Penyebab utama guncangan ini adalah kombinasi dari dua sentimen besar yang datang hampir bersamaan. Dari eksternal, data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat bulan September 2026 yang jauh lebih panas dari perkiraan menjadi pemicu utama penguatan dolar AS. CPI bulanan tercatat naik 0,6 persen, sementara inflasi tahunan melesat ke 3,7 persen, melampaui proyeksi pasar di 3,6 persen.
Baca Juga: HIPPINDO Dorong UMKM Berstandar Global, Perluas Akses Pasar dan Ekspor
CPI inti yang mengecualikan pangan dan energi juga naik 0,3 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan, di atas estimasi analis. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan harga bensin, solar, biaya tempat tinggal, hingga harga mobil bekas, yang memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama—sebuah skenario yang secara langsung melemahkan daya tarik aset-aset emerging market seperti rupiah. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi bahkan memperkirakan rupiah berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990, meskipun kenyataannya rupiah justru menembus jauh melampaui proyeksi tersebut .
Dari dalam negeri, sentimen yang tidak kalah mengguncang adalah pengumuman mengejutkan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi publik untuk mengubah status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman ini keluar sebelum jadwal tinjauan reguler November 2026, dan MSCI menyoroti persoalan mendasar seperti struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan, serta dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.
Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, menjelaskan bahwa dampaknya langsung terlihat pada perdagangan hari itu: IHSG anjlok tajam 10,10 persen ke level 5.271, sementara imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik sekitar 8 basis poin menjadi 7,34 persen. Ketika investor asing menjual saham dan menarik dana dari Indonesia, mereka menukarkan rupiah hasil penjualan menjadi dolar AS, sehingga permintaan valuta asing meningkat dan menekan nilai tukar rupiah semakin dalam.

