ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin sempat anjlok pada Jumat (16/10/2026), menembus level psikologis USD80.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan September, sebelum akhirnya bangkit kembali dengan cepat ke kisaran USD82.000-an. Per pukul 07.08 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level US$82.168,86, naik tipis 0,56% dalam 24 jam berdasarkan data CoinMarketCap.
Pergerakan intraday hari ini benar-benar liar. Berdasarkan data Binance, Bitcoin sempat jatuh ke titik terendah USD79.735 dalam 24 jam terakhir, kehilangan level USD80.000. Kemudian kembali melesat kembali ke sekitar USD82.053—sebuah rebound lebih dari USD2.300 dari titik terendah.
Titik tertinggi harian tercatat di USD82.540, menciptakan rentang volatilitas harian lebih dari USD2.800. Data dari CoinGlass pada pukul 11.24 WIB menunjukkan Bitcoin diperdagangkan di USD82.115, naik 1,17% dari 24 jam sebelumnya.
Pemicu utama drama hari ini adalah rilis data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat untuk bulan September 2026 yang jauh melampaui ekspektasi pasar. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan PPI naik 1,3% secara bulanan—kenaikan terbesar sejak Maret 2022—jauh di atas perkiraan ekonom sebesar 0,3%.
Secara tahunan, PPI melonjak 6,3%, lebih tinggi dari perkiraan 5,3% dan kenaikan 5,6% pada Agustus, menjadikannya kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022. Bahkan PPI inti yang mengecualikan harga pangan dan energi naik 0,7% secara bulanan dan 5% secara tahunan.
Baca Juga: Saham Coinbase dan Kripto Bersiap Hadapi Data Inflasi AS
Angka tersebut melampaui perkiraan pasar masing-masing 0,3% dan 4,4%. Lonjakan ini didorong sebagian besar oleh kenaikan harga energi sebesar 10,8% dalam sebulan, yang menunjukkan bahwa tekanan inflasi sedang menyebar dari sisi konsumen ke sisi produksi.
Meskipun data inflasi jauh lebih panas dari perkiraan, imbal hasil obligasi Treasury AS justru turun tajam dan dolar AS melemah sekitar 0,45%. Menurut data CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada bulan Oktober justru naik menjadi sekitar 73%, yang berarti peluang kenaikan suku bunga turun menjadi sekitar 27%—berbanding terbalik dengan ekspektasi awal yang sempat mendekati 50% setelah data inflasi dirilis.
Analis menilai bahwa pasar mulai mengkhawatirkan risiko pembiayaan dan utang di sektor AI, terutama setelah perlambatan pertumbuhan pendapatan Anthropic dan meningkatnya biaya perlindungan gagal bayar kredit CoreWeave ke level tertinggi sepanjang sejarah. Aliran modal pun bergeser keluar dari saham semikonduktor menuju aset-aset yang lebih defensif seperti obligasi pemerintah AS, farmasi, dan bahan mentah, sehingga menekan imbal hasil dan dolar AS—yang secara tidak langsung menjadi angin segar bagi Bitcoin.
Namun, di balik rebound yang terlihat meyakinkan, terdapat sinyal-sinyal kerentanan struktural yang patut dicermati. Analis on-chain Willy Woo menyoroti bahwa Bitcoin telah mengalami retracement sekitar 50% dari puncak tertingginya, sementara pasar saham AS terus mencetak rekor baru. Menurutnya, pola ini mirip dengan kondisi setelah insiden Mt. Gox pada 2014, ketika saham terus naik sementara Bitcoin bergerak lambat, dan pasar saham kemudian jatuh ke bear market sebelum Bitcoin menyambut bull market besar pada 2017.


3 thoughts on “Bitcoin Sempat Jebol USD80.000 di Tengah Guncangan Inflasi AS”