ByteDance Siapkan Investasi Besar AI, Chip Kustom MediaTek Jadi Andalan?

Bytedance

ASIAWORLDVIEW – ByteDance, perusahaan di balik TikTok dan Seedance, dikabarkan semakin dekat dengan kesepakatan bersama MediaTek untuk mengamankan pasokan chip Artificial Intelligence atau AI kustom bagi operasional pusat datanya. Laporan Bloomberg yang mengutip sumber-sumber terdekat menyebutkan bahwa kesepakatan ini akan membantu ByteDance memperoleh chip AI canggih, sementara MediaTek melihatnya sebagai dorongan besar untuk memperluas bisnis di luar prosesor mobile.

Langkah ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan cerminan dari pergeseran besar dalam cara perusahaan teknologi besar membangun infrastruktur komputasi mereka—terutama ketika akses terhadap chip AI paling mutakhir dari Nvidia dibatasi oleh kebijakan ekspor Amerika Serikat.

Chip yang dimaksud adalah Application Specific Integrated Circuits (ASIC), yaitu sirkuit terintegrasi yang dirancang khusus untuk bekerja dengan platform klien tertentu. Berbeda dengan GPU yang bersifat general-purpose, ASIC menawarkan efisiensi daya dan performa yang dioptimalkan untuk beban kerja spesifik, dalam hal ini inferensi dan pelatihan model AI. Meskipun volume pembicaraan belum diungkap, kesepakatan ini, jika terwujud, akan menjadikan ByteDance sebagai pelanggan besar kedua MediaTek untuk ASIC semacam itu setelah Google.

Bagi ByteDance, kebutuhan akan chip AI kustom bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Perusahaan ini, seperti raksasa teknologi lainnya, sedang menginvestasikan dana besar dalam belanja perangkat keras karena bertaruh pada AI sebagai mesin pertumbuhan berikutnya. Namun, ByteDance—bersama Alibaba, Tencent, dan perusahaan teknologi Tiongkok lainnya—dilarang mengakses chip AI paling canggih dari Nvidia akibat pembatasan ekspor AS.

Baca Juga: YouTube Siap Geser TV Konvensional, Andalkan Strategi Campuran Long dan Short Video

ByteDance menjajaki berbagai alternatif untuk mengimbangi permintaan komputasi yang terus meningkat, termasuk kemitraan dengan perancang chip. Langkah ini diperbolehkan di bawah pembatasan ekspor AS saat ini, tetapi hanya selama daya komputasi AI perusahaan tidak melewati ambang batas tertentu. Sebelumnya, pada awal tahun ini, ByteDance juga dikabarkan mencapai kesepakatan serupa dengan Qualcomm untuk memperoleh jutaan chip AI. Strategi ini menunjukkan bahwa ByteDance tidak hanya bergantung pada satu pemasok, melainkan membangun portofolio pasokan yang terdiversifikasi untuk mengurangi risiko dan menjaga keberlanjutan operasional AI-nya.

Raksasa teknologi Tiongkok ini sedang memasang taruhan besar. Perusahaan ini mempertimbangkan untuk meningkatkan pengeluaran hingga USD70 miliar untuk pusat data dan infrastruktur AI, lebih dari dua kali lipat total tahun lalu. Angka ini bahkan berpotensi mencapai USD100 miliar pada 2027. Pada September lalu, ByteDance telah mengamankan pinjaman sebesar $30 miliar untuk mendanai pertumbuhan AI-nya.

Pusat data yang menampung ribuan chip AI membutuhkan investasi besar tidak hanya pada silikon, tetapi juga pada pendinginan, jaringan, dan pasokan listrik. Oleh karena itu, bermitra dengan MediaTek untuk ASIC kustom dapat memberikan ByteDance keunggulan dalam hal biaya per komputasi, efisiensi energi, dan penyesuaian dengan tumpukan perangkat lunak internal mereka. ASIC memungkinkan perusahaan mengoptimalkan chip untuk model AI spesifik yang mereka gunakan, sesuatu yang sulit dilakukan dengan GPU generik.

Bagi MediaTek, kesepakatan ini merupakan kemenangan besar dan dorongan signifikan dalam upaya diversifikasi dari prosesor mobile. Selama ini, MediaTek dikenal luas sebagai pemasok chip untuk smartphone, tetapi ambisi mereka untuk bersaing dengan Qualcomm dan Broadcom di pasar pusat data semakin terlihat. MediaTek memperkirakan penjualan chip AI mereka akan mencapai sekitar $2 miliar tahun ini, dan menargetkan 15% dari pasar senilai USD80 miliar pada tahun depan.

Jika kesepakatan dengan ByteDance terwujud, MediaTek akan memiliki pelanggan besar kedua setelah Google, yang selama ini menjadi mitra utama mereka dalam pengembangan ASIC. Ini tidak hanya memperkuat posisi MediaTek di pasar chip AI, tetapi juga memberikan validasi teknis bahwa kemampuan mereka setara dengan pemain mapan di segmen pusat data. Dalam jangka panjang, keberhasilan MediaTek menarik pelanggan seperti ByteDance dapat membuka pintu bagi lebih banyak perusahaan teknologi yang mencari alternatif dari Nvidia dan AMD.

Namun, hingga saat ini, baik ByteDance maupun MediaTek belum secara resmi mengonfirmasi kesepakatan tersebut. Dengan pembicaraan yang dilaporkan mendekati tahap akhir, konfirmasi resmi diperkirakan akan segera menyusul jika semua berjalan sesuai rencana. Dalam dunia teknologi yang bergerak cepat, kabar semacam ini biasanya menjadi sinyal awal dari pergeseran yang lebih besar: perusahaan teknologi Tiongkok semakin agresif membangun infrastruktur AI mandiri, sementara pemasok chip non-tradisional seperti MediaTek semakin berani menantang dominasi pemain lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *