ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) bergerak di kisaran USD80.900 hingga USD81.300 per koin, berdasarkan sejumlah sumber data pasar kripto yang memperbarui harga secara real-time pada hari ini. Data Tindex mencatat Bitcoin berada di level sekitar USD81.253, sementara Convex melaporkan harga antara USD80.912 hingga USD80.977 pada perdagangan 15 Oktober 2026.
Posisi Bitcoin saat ini mencerminkan fase konsolidasi setelah mengalami volatilitas cukup tinggi sepanjang kuartal ketiga 2026. Meski masih menjadi aset kripto terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, Bitcoin belum mampu kembali mendekati rekor tertingginya yang sempat mencapai sekitar USD126.000. Saat ini harga BTC masih berada lebih dari 30% di bawah level puncak tersebut, menunjukkan bahwa sentimen investor global masih cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko.
Tekanan utama terhadap Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir berasal dari faktor makroekonomi Amerika Serikat. Pelaku pasar tengah mencermati data inflasi AS yang menjadi acuan bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Laporan pasar menunjukkan bahwa inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan telah memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Kondisi ini biasanya mengurangi minat investor terhadap aset spekulatif seperti kripto karena dana cenderung mengalir ke instrumen yang menawarkan imbal hasil tetap dan risiko lebih rendah.
Baca Juga: Saham Coinbase dan Kripto Bersiap Hadapi Data Inflasi AS
Dari sisi permintaan institusional, pasar juga menghadapi tantangan. Sejumlah analis menilai bahwa reli Bitcoin saat ini belum didukung arus modal yang kuat dari investor besar. Data yang dikutip dalam laporan pasar menunjukkan bahwa aliran dana ke ETF Bitcoin spot masih berfluktuasi, bahkan sempat mencatat arus keluar pada awal Oktober. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa investor institusional belum sepenuhnya kembali memasuki pasar dalam skala besar.
Meski demikian, jika dilihat dalam jangka menengah, Bitcoin masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Dibandingkan tiga bulan lalu, nilainya masih mencatat kenaikan yang cukup signifikan, menandakan bahwa minat terhadap aset digital belum hilang. Banyak investor masih memandang Bitcoin sebagai aset alternatif untuk diversifikasi portofolio, terutama ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat. Narasi Bitcoin sebagai “emas digital” juga tetap menjadi faktor pendukung yang menjaga daya tarik aset ini di tengah perubahan kondisi ekonomi dunia.
Bagi pelaku pasar, pergerakan Bitcoin pada pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed, perkembangan inflasi AS, aliran dana ke ETF kripto, serta sentimen pasar keuangan global secara keseluruhan. Selama faktor-faktor tersebut belum memberikan sinyal yang jelas, harga Bitcoin berpotensi tetap bergerak dalam rentang terbatas di sekitar level USD80.000 hingga USD84.000. Investor cenderung menunggu katalis baru sebelum menentukan arah investasi berikutnya.
Jika dikonversikan ke rupiah dengan asumsi kurs sekitar Rp16.500 per dolar AS, maka harga 1 Bitcoin saat ini berada di kisaran Rp1,33 miliar hingga Rp1,34 miliar per koin. Perhitungan ini dapat berubah mengikuti pergerakan kurs dan harga pasar secara real-time.


One thought on “Bitcoin Bertahan di Kisaran USD81 Ribu, Inflasi AS dan The Fed Jadi Sorotan Pasar”