ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali memasuki jalur depresiasi yang cukup dalam pada Senin (28/9/2026). Angkanya bergerak melemah 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.948 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi, dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS. Pelemahan ini bahkan sempat menyentuh level yang lebih rendah lagi, dengan data Bloomberg mencatat rupiah melemah 61 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.964 per dolar AS pada pukul 09.23 WIB.
Sementara analisis Doo Financial Futures mencatat pelemahan hingga 65 poin atau 0,36 persen ke level Rp17.968 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan tekanan yang masih kuat terhadap mata uang Garuda, yang kini kembali mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah sempat menguat ke level Rp17.536 pada 10 September 2026.
Faktor dominan yang menekan rupiah hari ini adalah rilis data penjualan barang tahan lama (durable goods) AS untuk bulan Agustus 2026 yang tercatat tidak berubah (0 persen), lebih tinggi dari perkiraan pasar yang memproyeksikan penurunan sebesar -0,4 persen. Pesanan baru untuk barang tahan lama buatan AS pada bulan Agustus bergerak stabil di angka 338,6 miliar dolar AS.
Data ini memperkuat ekspektasi bahwa ekonomi AS masih solid, yang pada gilirannya meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed. Menurut data CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan adanya peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga seperempat poin pada pertemuan The Fed bulan Oktober 2026, naik dari 50 persen di awal pekan.
Baca Juga: OJK: Indonesia Masuki Fase Populasi Menua, Dana Pensiun Harus Diperkuat
Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia, dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS yang lebih kuat tersebut.
Kenaikan ekspektasi suku bunga Fed tercermin langsung pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di angka 5,2 persen, sementara tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen. Tingginya imbal hasil ini menahan investasi portofolio menuju negara berkembang, termasuk Indonesia, dan memperkuat posisi dolar AS.
Selain itu, harga minyak mentah dunia juga melambung tinggi akibat ketegangan geopolitik yang kembali memanas. West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel, sementara Brent menembus 103,2 dolar AS per barel. Harga minyak yang tinggi ini berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global dan memperburuk defisit transaksi berjalan Indonesia, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap rupiah.
Sentimen geopolitik turut memperkeruh keadaan. Presiden AS Donald Trump menolak proposal terbaru Iran yang disampaikan dalam negosiasi tidak langsung di New York pekan ini. Teheran mengusulkan pembukaan kembali jalur perairan strategis dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir dalam waktu satu minggu, sebagai imbalan atas pencabutan blokade angkatan laut oleh Washington, penghapusan sanksi terhadap penjualan minyak Iran, dan pemulihan gencatan senjata di seluruh kawasan. Penolakan ini meningkatkan kekhawatiran pasar akan eskalasi konflik di Timur Tengah, yang dapat mengganggu pasokan minyak global dan memperkuat dolar AS sebagai aset safe haven. AS bahkan sedang mempertimbangkan serangan baru usai pemilihan umum sela di AS pada November 2026.
Pelemahan rupiah hari ini terjadi di tengah dominasi dolar AS terhadap mayoritas mata uang kawasan Asia. Won Korea Selatan tercatat tertekan paling dalam di kawasan sebesar 0,56–0,59 persen, diikuti baht Thailand melemah 0,39 persen, yen Jepang melemah 0,29 persen, dolar Taiwan melemah 0,19 persen, ringgit Malaysia melemah 0,15 persen, dolar Singapura melemah 0,09 persen, peso Filipina melemah 0,05 persen, dan yuan China melemah 0,03 persen. Rupee India menjadi satu-satunya mata uang yang menguat terhadap dolar AS sebesar 0,15 persen. Indeks dolar AS (DXY) terpantau berada di posisi 101,15, menguat dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah bukanlah fenomena isolasi, melainkan bagian dari penguatan dolar AS secara global yang dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih hawkish.

