ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 32,14 poin atau 0,51 persen ke level 6.209,75, pada Senin (28/9/2026). Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan akhir pekan sebelumnya di level 6.241,89. Pelemahan ini langsung berlanjut ke zona merah yang lebih dalam.
IHSG tercatat turun hingga 1 persen atau 62,19 poin ke level 6.179,71 pada pukul 10.27 WIB, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.227,90. Indeks LQ45 juga turun 0,67 persen ke posisi 616,94 pada pembukaan, mencerminkan tekanan yang merata di saham-saham unggulan. Volume perdagangan tercatat sekitar 6,38 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,438 triliun, sementara 476 saham turun, 187 saham menguat, dan 300 saham stagnan.
Faktor domestik yang paling dominan menekan IHSG hari ini adalah implementasi resmi kebijakan BEI yang menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar, yang mulai berlaku efektif pada Senin, 28 September 2026. Kebijakan ini memungkinkan saham-saham yang selama ini “nyangkut” di level gocap (Rp50) untuk diperdagangkan pada harga yang lebih rendah, dengan tujuan meningkatkan likuiditas dan kualitas price discovery. Namun, pasar merespons kebijakan ini dengan kekhawatiran akan peningkatan volatilitas, terutama pada saham-saham berharga rendah yang kini memiliki ruang perdagangan yang jauh lebih luas.
Baca Juga: OJK: Indonesia Masuki Fase Populasi Menua, Dana Pensiun Harus Diperkuat
Perubahan batas harga minimum ini berpotensi meningkatkan volatilitas pada saham berharga rendah, meskipun juga dapat memperbaiki pembentukan harga bagi emiten yang sebelumnya tertahan di level Rp50. BEI juga menyesuaikan batasan Auto Rejection (AR) seiring perubahan ini, dengan ARB asimetris 15% tetap berlaku untuk saham di atas Rp10, sementara untuk saham dalam rentang Rp1–Rp10, batasan ARA dan ARB ditetapkan sebesar Rp1.
Sentimen global masih menjadi beban berat bagi IHSG. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun bertahan di atas 5 persen, bahkan sempat menyentuh 5,167 persen, yang memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan tekanan inflasi dan meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026. Kenaikan yield ini turut memperkuat indeks dolar AS dan memicu aliran dana keluar dari emerging market, termasuk Indonesia.
Nilai tukar rupiah terus melemah mendekati level Rp18.000 per dolar AS, menambah tekanan pada pasar saham domestik. Selain itu, harga minyak mentah yang masih tinggi di atas USD100 per barel akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen, karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi energi global. Bursa saham Asia juga mayoritas tertekan, dengan Shanghai Composite turun 1,36 persen dan Kospi Korea Selatan anjlok 2,20 persen, menciptakan lingkungan regional yang tidak kondusif bagi IHSG.
Tekanan jual dari investor asing masih berlanjut. Pada perdagangan Jumat (25/9), asing mencatatkan net sell Rp559,08 miliar, dan sepanjang pekan lalu total net sell mencapai Rp3,16 triliun—lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat Rp2,96 triliun. Akumulasi net sell asing sepanjang 2026 telah mencapai Rp77,52 triliun, mencerminkan kehati-hatian investor global terhadap pasar Indonesia.
Secara sektoral, sektor teknologi memimpin pelemahan dengan koreksi 3,61 persen, diikuti konsumer primer turun 1,87 persen dan keuangan melemah 0,60 persen, sementara hanya sektor energi, industri, konsumer non-primer, dan transportasi yang berhasil menguat tipis. Pelemahan sektor teknologi ini sejalan dengan tekanan global pada saham-saham berbasis pertumbuhan akibat kenaikan imbal hasil obligasi.
Dari perspektif teknikal, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 6.186–6.113, dengan support berikutnya di sekitar 6.029, menurut Head of Research Kiwoom Sekuritas. Analis BRI Danareksa Sekuritas melihat support di 6.200–6.220, dengan MACD yang masih menunjukkan momentum bearish dan pola Head and Shoulders yang mengindikasikan tekanan jual dengan neckline di sekitar 6.375. Untuk terjadi rebound, IHSG perlu kembali ke atas level 6.290 terlebih dahulu, kemudian menembus area 6.328–6.368. Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas mencatat kondisi oversold pada indikator RSI yang membuka peluang technical rebound, dengan support di 6.231 dan 6.117 serta resistance di 6.334 dan 6.415. Namun, volume perdagangan yang terus menurun menunjukkan minimnya minat beli untuk mendorong pemulihan yang berkelanjutan.

