ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) bergerak dalam fase konsolidasi yang tidak menentu di sekitar level USD84.000 hingga USD84.500, pada Senin (28/9/2026). Sebagian besar data pasar menunjukkan pergerakan yang cenderung sideways tanpa arah yang jelas.
Data dari Tokocrypto mencatat BTC berada di kisaran USD84.424,06, naik tipis 0,13% dibandingkan sehari sebelumnya. Sementara itu, Yonhap Infomax melaporkan BTC diperdagangkan di USD84.489, menguat 0,67% dalam 24 jam terakhir, dengan Ethereum (ETH) juga naik 0,76% ke USD2.706.
Tekanan utama yang membayangi pergerakan Bitcoin hari ini masih berasal dari pasar obligasi AS. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun bertahan di level tertinggi sejak 2007, dengan probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober berada di kisaran 75% . Meskipun CoinDesk mencatat bahwa secara historis tidak ada hubungan yang konsisten antara kenaikan imbal hasil Treasury dan penurunan harga Bitcoin, volatilitas di pasar obligasi tetap menjadi faktor yang dapat menekan aset berisiko.
Baca Juga: Ancaman PAKD Ilegal di Ekosistem Kripto Indonesia Kian Serius, OJK Ambil Tindakan Tegas
Pasar juga mencermati settlement Treasury senilai USD202 miliar yang jatuh tempo pada 30 September, meskipun analisis menunjukkan bahwa ini adalah rollover rutin dengan net new supply hanya USD58,42 miliar—bukan drain kas yang signifikan—dan belum ada bukti yang menghubungkannya dengan pergerakan Bitcoin. Selain itu, harga minyak yang lebih tinggi dan dolar AS yang menguat turut menekan momentum Bitcoin, dengan Moneycontrol menyebut adanya profit-taking setelah BTC sempat menyentuh USD87.000 pada 23 September .
Di sisi positif, arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS masih menjadi penopang yang signifikan. Pada 25 September, ETF Bitcoin spot AS mencatat net inflow sekitar USD134 juta, menandai hari ketujuh berturut-turut arus masuk positif. Secara kumulatif, hampir USD10 miliar arus masuk bersih ke ETF Bitcoin spot AS tercatat pada 21 September—terbesar dalam sekitar satu tahun sejak Oktober lalu.
Arus masuk ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan makro, permintaan institusional terhadap Bitcoin tetap kuat. Analis dari Samsung Securities mencatat bahwa sensitivitas penurunan terhadap ketidakpastian kebijakan semakin berkurang, sementara reaksi kenaikan terhadap ekspektasi deregulasi justru meningkat . Namun, KuCoin melaporkan bahwa arus ETF mulai mendingin, yang turut menekan momentum BTC setelah gagal bertahan di atas USD85.000 .
Struktur jangka pendek Bitcoin masih dalam fase pemulihan yang bergejolak, dengan support di antara USD83.200 dan USD83.500. BTC perlu merebut kembali USD84.500 terlebih dahulu. Sementara zona resistance utama tetap di USD85.100–USD85.300.
Dari sisi on-chain, seorang whale yang tidak aktif selama lebih dari empat tahun dilaporkan memindahkan 4.500 BTC senilai sekitar USD378,79 juta . Pergerakan besar dari alamat yang lama tidak aktif ini bisa menjadi sinyal profit-taking atau reposisi portofolio, dan pasar mencermati apakah dana tersebut akan masuk ke bursa untuk dijual atau hanya berpindah dompet.
Sentimen pasar masih cenderung hati-hati, dengan fokus utama pada data inflasi PCE dan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis minggu ini—data-data ini akan menentukan arah ekspektasi suku bunga Fed dan pada gilirannya mempengaruhi pergerakan Bitcoin . Pasar juga mencermati dinamika pasar obligasi, di mana volatilitas yang berkelanjutan—bukan level imbal hasil itu sendiri—dapat menekan aset berisiko.

