BI Dorong Investasi SDM Hadapi Transisi Ekonomi Hijau dan Digital

ASIAWORLDVIEW – Pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan sekadar agenda pendidikan, melainkan agenda daya saing ekonomi karena kualitas sumber daya manusia menentukan kemampuan suatu negara untuk beradaptasi dengan perubahan global. Talenta yang kompeten menjadi faktor produksi lintas sektor yang mampu mengubah modal dan inovasi menjadi pertumbuhan berkelanjutan. Tanpa tenaga terampil, investasi dan teknologi berisiko tidak menghasilkan dampak optimal, sehingga kesenjangan talenta dapat menjadi hambatan struktural bagi ekonomi.

Hal itu diungkapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia menegaskan bahwa pengembangan talenta yang siap menghadapi masa depan bukan sekadar agenda pendidikan, melainkan agenda daya saing ekonomi.

“Transisi energi, transformasi digital, dan keuangan berkelanjutan memunculkan kebutuhan terhadap berbagai kemampuan baru, mulai dari insinyur dan spesialis data hingga tenaga yang memiliki keahlian di bidang kecerdasan artifisial (AI) serta risiko terkait iklim. Kondisi ini membuat investasi pada keterampilan sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan semakin penting untuk menghadapi perubahan kebutuhan ekonomi yang berlangsung cepat,” ia mengatakan.

Baca Juga: Pasar Karbon Indonesia Mulai Menyasar Desa: Dari Korporasi ke Petani dan Nelayan

Ia menempatkan talenta sebagai faktor produksi yang bersifat lintas sektoral. Talenta bukan hanya input pasif, melainkan elemen yang mengubah modal dan inovasi menjadi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Pada akhirnya, transisi yang berhasil dan berkeadilan tidak hanya bergantung pada modal dan teknologi, tetapi juga sangat bergantung pada talenta dan manusia,” ia menambahkan.

Ia menyiratkan bahwa tanpa ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten, aliran investasi dan adopsi teknologi berisiko tidak menghasilkan dampak ekonomi yang optimal. Dengan kata lain, kesenjangan talenta dapat menjadi penghambat struktural bagi pertumbuhan, terutama di sektor-sektor yang menjadi prioritas dalam agenda transisi ekonomi hijau dan digital.

Urgensi penguatan sumber daya manusia tersebut menjadi semakin relevan di tengah masih besarnya kesenjangan talenta digital Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Februari 2026 memproyeksikan Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital pada 2030, sedangkan kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaannya masih sekitar 3 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi yang terencana, kekurangan tenaga terampil berpotensi menahan laju transformasi digital nasional.

“Pemerintah, otoritas, regulator, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan dunia usaha perlu bekerja sama untuk menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan industri masa depan. Kolaborasi lintas institusi ini penting karena kesenjangan talenta tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Perguruan tinggi bertanggung jawab menyiapkan lulusan dengan keterampilan yang relevan, industri berperan memberikan sinyal kebutuhan dan kesempatan praktik, sementara regulator dan otoritas seperti BI menciptakan kerangka kebijakan yang mendukung,” pungkasnya.

BI sendiri turut berkontribusi melalui berbagai program pengembangan kapasitas, termasuk Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) yang menjadi wadah pengembangan inovasi, talenta, serta kolaborasi antara regulator, industri, akademisi, dan perusahaan rintisan. Pada September 2026, BI juga menyelenggarakan Digital Talent Expo sebagai bagian dari rangkaian PIDI dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia dan Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE) 2026. Program tersebut mempertemukan talenta digital dengan pelaku industri serta menjadi ruang untuk menampilkan inovasi yang diarahkan pada peningkatan produktivitas dan kebutuhan nyata perekonomian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *