ASIAWORLDVIEW – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan arus masuk modal asing sebesar Rp131,1 triliun sejak awal tahun menunjukkan bahwa fundamental makroekonomi Indonesia masih dianggap solid oleh investor global. Menurutnya, kepercayaan investor tidak hanya tercermin dari angka besar tersebut, tetapi juga dari minat yang kuat terhadap instrumen keuangan domestik seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Utang Negara (SUN).
“Arus masuk ini terutama didorong oleh Surat Berharga Negara (SBN), yang semakin menarik dan berhasil menarik Rp36,7 triliun,” ia mengatakan.
Momentum kembali meningkat pada awal kuartal keempat, dengan arus masuk modal asing bersih tercatat sebesar Rp22,01 triliun per 7 Oktober. Lonjakan arus masuk ini menjadi indikator bahwa Indonesia mampu menjaga stabilitas fiskal dan moneter di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.
“Surat Utang Negara (SUN) tetap menjadi pendorong utama investasi asing. Hanya dalam enam hari pertama Oktober saja, surat utang negara tersebut menarik modal asing hampir Rp8 triliun. Sebaliknya, pasar saham domestik mencatat arus keluar modal asing bersih sebesar Rp84,2 triliun sejak awal tahun,” ia menambahkan.
Baca Juga: IPOT X Bukti Adopsi AI di Industri Sekuritas, Ubah Cara Investor Memahami Pasar
Meskipun pasar saham domestik mencatat arus keluar modal asing, daya tarik aset berdenominasi rupiah tetap tinggi karena dianggap memberikan imbal hasil yang kompetitif dengan risiko yang relatif terkendali. Hal ini memperlihatkan bahwa koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang erat berhasil menjaga kepercayaan investor, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar keuangan yang resilien di kawasan Asia.
Permintaan yang kuat terhadap Surat Utang Negara dan Surat Utang Bank Indonesia (SRBI) — instrumen moneter jangka pendek Bank Indonesia — telah menangkis tekanan jual di pasar saham.
“Dinamika ini menunjukkan daya tarik yang kuat dari aset-aset berdenominasi rupiah serta kepercayaan investor yang berkelanjutan terhadap stabilitas makroekonomi kita. Kami akan terus memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta kemitraan kami dengan (dana kekayaan negara Indonesia) Danantara,” pungkasnya.
