IHSG Tertekan di Tengah Transisi Menteri Keuangan

Ilustrasi pergerakan harga saham.

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan sesi yang penuh gejolak pada Selasa (15/9/2026), dengan pergerakan dua arah yang tajam. Kondisi ini dibayangi oleh kombinasi sentimen domestik dan eksternal yang saling bertolak belakang. Indeks dibuka di zona hijau pada level 6.544,77, naik sekitar 10,08 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di 6.534,69. Namun, euforia pembukaan tersebut tidak berlangsung lama. Selang beberapa menit setelah perdagangan dimulai, tekanan jual masif langsung menghantam pasar. Pada pukul 09.09 WIB, IHSG sudah terpuruk ke level 6.463,97, melemah 70,72 poin atau 1,08 persen, dengan level terendah harian menyentuh 6.462,85.

Pergantian Menteri Keuangan menjadi sentimen domestik utama yang menggerakkan pasar. Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (14/9) memicu reaksi beragam dari investor. Di satu sisi, pasar menyambut positif figur Suahasil yang memiliki pengalaman sebagai Wakil Menteri Keuangan, dengan harapan dapat menjaga kredibilitas dan disiplin fiskal, termasuk komitmen memastikan defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap PDB

Namun, di sisi lain, ketidakpastian arah kebijakan fiskal baru membuat investor mengambil sikap wait-and-see, yang tercermin dari aksi jual di saham-saham berkapitalisasi besar. Analis Phintraco Sekuritas menilai bahwa rebound yang sempat terjadi lebih mencerminkan relief rally karena pasar mendapat kepastian figur, bukan perubahan fundamental yang signifikan.

Baca Juga: Purbaya Mendadak Dicopot dari Posisi Menteri Keuangan, Apa Alasannya?

Tekanan eksternal yang berat memperparah koreksi IHSG. Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9), sementara jalur pipa minyak East-West Saudi terganggu dan Selat Hormuz masih ditutup.

Kondisi ini mendorong harga minyak mentah dunia melonjak, dengan WTI naik 1,24 persen ke US$102,65 per barel dan Brent menguat 1,18 persen ke USD106,93 per barel, memicu kekhawatiran inflasi dan peningkatan biaya energi bagi negara pengimpor seperti Indonesia. Selain itu, pasar juga mencermati rapat FOMC The Federal Reserve yang diperkirakan akan mengubah arah kebijakan suku bunga, serta rilis data ekonomi China yang berpotensi memengaruhi sentimen regional.

Dari sisi sektoral, hampir seluruh sektor mengalami tekanan. Sektor keuangan menjadi yang terdalam koreksinya, turun 1,07 persen, dengan saham-saham bank jumbo menjadi penekan utama indeks. Bank Negara Indonesia (BBNI) melemah 1,81 persen, Bank Mandiri (BMRI) turun 1,80 persen, dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) terkoreksi 1,76 persen dalam jajaran top losers LQ45. Sektor transportasi turun 0,46 persen dan sektor barang baku melemah 0,63 persen.

Hanya dua sektor yang berhasil bertahan di zona hijau, yaitu barang konsumen non-siklikal (+0,08 persen) dan barang konsumen siklikal (+0,05 persen). Di tengah tekanan tersebut, beberapa saham justru mencatatkan penguatan, seperti Mitra Adiperkasa (MAPI) naik 1,51 persen, Sumber Alfaria Trijaya (AMRT) menguat 1,13 persen, dan Hartadinata Abadi (HRTA) naik 0,94 persen.

IHSG bergerak dalam rentang yang lebar antara level terendah 6.462,85 hingga tertinggi 6.549,60 pada awal sesi. Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi pada awal sesi tercatat mencapai 2,89 miliar saham dengan nilai transaksi Rp1,63 triliun, sementara 297 saham melemah, 203 saham menguat, dan 463 saham stagnan. Dengan kombinasi tekanan eksternal yang masih pekat dan transisi kebijakan fiskal domestik yang belum sepenuhnya jelas, IHSG pada hari itu menutup sesi dengan catatan koreksi, menyisakan pertanyaan besar bagi investor mengenai arah pasar ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *