ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat di pasar spot pada Jumat (18/9/2026). Dibuka dan diperdagangkan pada kisaran Rp17.710 hingga Rp17.743 per dolar AS.
Penguatan rupiah pada hari tersebut terjadi di tengah tren positif yang melanda mayoritas mata uang Asia, dengan ringgit Malaysia mencatat penguatan terbesar sebesar 0,47%, disusul dolar Taiwan 0,34%, peso Filipina 0,19%, dan yuan China 0,09% .
Sebaliknya, won Korea melemah 0,36%, yen Jepang melemah 0,21%, dan dolar Singapura melemah 0,02% terhadap dolar AS . Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 100,237 pada pukul 09.00 WIB .
Dari sisi faktor eksternal, pergerakan rupiah pada perdagangan akhir pekan ini dipengaruhi oleh koreksi terbatas indeks dolar AS setelah bank sentral AS (The Federal Reserve) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% . Keputusan The Fed tersebut sempat mendorong dolar AS melonjak tajam, namun mulai kehilangan tenaga seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meredanya harga minyak dunia.
Baca Juga: Rano Karno: JITEX 2026 Harus Jadi Motor Pertumbuhan Global Jakarta
Laporan mengenai tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman serta harapan bahwa Arab Saudi akan memulihkan sekitar setengah dari pasokan yang terdampak dalam beberapa hari ke depan turut menekan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS.
Meski mulai terkoreksi, dolar AS masih berada di atas level psikologis 100, dan pelaku pasar memperkirakan jalur kenaikan bunga yang lebih agresif dibandingkan proyeksi The Fed, dengan investor memperhitungkan lebih dari satu kenaikan tambahan hingga akhir tahun ini dan sekitar tiga kali kenaikan lagi sampai akhir 2027 .
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada konferensi pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) KiTa yang akan digelar Menteri Keuangan Suahasil Nazara, yang akan membahas realisasi pendapatan dan belanja negara hingga Agustus 2026. Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan yang disampaikan Suahasil, terutama terkait perkembangan penerimaan negara, belanja pemerintah, dan pembiayaan utang, sebagai gambaran awal untuk memperkirakan kondisi APBN sampai akhir 2026.
Rupiah berpeluang menguat terhadap dolar AS seiring penurunan harga minyak mentah dunia, dengan proyeksi pergerakan rupiah hari ini berada dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS. Ia juga menambahkan bahwa saat ini belum ada sentimen penggerak signifikan dari dalam negeri, sehingga laju rupiah pasar uang akan sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar global tersebut .
