ASIAWORLDVIEW – Jakarta International Investment, Trade, Tourism, and SME Expo atau JITEX 2026 esmi dibuka. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang perdagangan dan kolaborasi bisnis, tetapi juga memiliki potensi besar untuk mendatangkan wisatawan ke Indonesia, khususnya Jakarta. Dengan konsep yang mengintegrasikan pameran dagang, fashion, kuliner, dan industri kreatif, kegiatan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara yang ingin merasakan pengalaman belanja sekaligus menikmati atmosfer urban Jakarta.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebutkan, Jakarta bukan lagi sekadar kota pemerintahan yang formal dan birokratis, melainkan sebuah kota yang sedang mendandani dirinya sebagai pusat fashion dan pariwisata bisnis di Asia. Dalam bayangannya, Jakarta harus diposisikan seperti sebuah runway raksasa—tempat etalase merek lokal, karya desainer muda, produk UMKM, hingga pengalaman kuliner dan gaya hidup urban bertemu dengan pasar regional.
“Tren meningkatnya kunjungan influencer dari Malaysia dan negara-negara tetangga yang mereview pengalaman belanja fesyen dan kuliner di Jakarta, sebuah fenomena yang dalam bahasa media fashion bisa dibaca sebagai bentuk street credibility” baru. Hal itu membuat Jakarta tidak hanya dilihat sebagai kota transit atau pusat kantor, tetapi sebagai destinasi gaya hidup yang layak dikurasi, diunggah, dan diperbincangkan,” ia mengatakan.
Baca Juga: Rano Karno: JITEX 2026 Harus Jadi Motor Pertumbuhan Global Jakarta
Kehadiran UMKM kreatif, produk lokal berkualitas, serta pertunjukan budaya dalam rangkaian acara membuat JITEX bukan hanya sekadar forum bisnis, melainkan destinasi wisata belanja yang unik. Wisatawan yang datang untuk menghadiri pameran akan berinteraksi langsung dengan produk-produk lokal, memperluas peluang ekspor sekaligus meningkatkan konsumsi domestik.
“Ini menunjukkan potensi besar Jakarta sebagai destinasi belanja dan gaya hidup regional, di mana fesyen bukan lagi sekadar konsumsi, melainkan bagian dari diplomasi ekonomi kota dan magnet pariwisata,” tambahnya.
Jakarta, katanya, kini berperan sebagai pusat perdagangan, investasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Kota ini disebut sebagai salah satu dari tiga gerbang utama Indonesia bersama Bali dan Batam, dengan pembagian karakter yang jelas: Bali lebih dominan untuk leisure tourism. Sementara Jakarta unggul dalam MICE—Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions—wisata belanja, kuliner, dan urban.
Data yang dipaparkan memperkuat narasi itu: pada 2025, Jakarta dikunjungi 2,22 juta wisatawan domestik dan 21.381 wisatawan mancanegara, sementara data BPS Juli 2026 mencatat 8,84 juta perjalanan wisata Nusantara ke Jakarta dengan tingkat hunian hotel bintang mencapai 58,28%.
Angka-angka ini, dalam kacamata industri fesyen, bukan sekadar statistik, melainkan indikator bahwa ada pasar yang bergerak—orang datang, menginap, berbelanja, mencari pengalaman, dan membawa pulang cerita tentang gaya Jakarta. Namun Ni Luh juga menekankan tantangan utama: meningkatkan quality of experience, lama tinggal wisatawan, dan spending mereka di Jakarta.
“Ini berarti pengalaman harus dirancang seperti koleksi musiman yang punya daya pikat berlapis—bukan hanya mall dan diskon, tetapi kurasi produk, cerita desainer, ruang pameran, kafe, kuliner, hingga event yang membuat wisatawan ingin kembali. JITEX 2026 diharapkan melahirkan investasi baru, akses pasar bagi produk UMKM, serta kemitraan internasional, sehingga semangat Ignite the Economy tidak berhenti sebagai slogan musiman, melainkan membangun ekosistem yang berkelanjutan dan memberi manfaat luas,” pungkasnya.

