ASIAWORLDVIEW – Ada sebuah perubahan menarik dalam pola perjalanan keluarga Indonesia pada libur sekolah 2026. Jika selama bertahun-tahun destinasi seperti Bali, Bandung, atau Yogyakarta selalu menjadi primadona dengan lautan wisatawan yang membanjiri setiap sudutnya, kini angin segar berembus ke arah yang berbeda.
Data terbaru dari PRISM mengungkap bahwa Solo dan Malang muncul sebagai dua kota dengan lonjakan pemesanan akomodasi tertinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Fenomena ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari jiwa wisatawan masa kini yang semakin haus akan pengalaman otentik, jauh dari hiruk-pikuk destinasi mainstream yang sudah terlalu sering dijamah.
“Perjalanan domestik kini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan industri hospitality di Asia Tenggara. Indonesia menunjukkan dinamika yang sangat menarik, di mana permintaan mulai menyebar ke kota-kota dengan potensi wisata yang terus berkembang,” sebut Pawas Sharma, Business Head, SEAME & LATAM, PRISM, dikutip Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Era Baru Pariwisata Indonesia: Merawat Tubuh, Jiwa, dan Budaya
Solo, dengan sejuta pesona budaya Jawa yang kental, menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat Keraton Kasunanan atau Pasar Triwindu yang legendaris, tetapi juga untuk merasakan denyut kehidupan kota yang masih memegang erat tradisi di tengah arus modernisasi. Pecinan Solo yang ramai, suasana malam di Ngarsopuro, hingga kuliner khas seperti bubur kacang hijau dan selat Solo yang menggugah selera, semuanya menjadi magnet bagi keluarga yang ingin merasakan “Solo yang sesungguhnya.”

Di sisi lain, Malang menyuguhkan pesona yang berbeda namun tak kalah memikat. Udara sejuk pegunungan, arsitektur kolonial yang masih terawat, hingga hamparan kebun apel dan wisata petik stroberi yang menyenangkan bagi anak-anak, menjadikan kota ini sebagai oase ideal untuk melepas penat dari rutinitas kota besar.
“Pergeseran ini membuka peluang baru bagi pelaku industri untuk memperluas pilihan akomodasi dan menghadirkan
pengalaman menginap yang lebih dekat dengan kebutuhan wisatawan,” ia menambahkan.
Tren ini menunjukkan bahwa wisatawan Indonesia kini lebih berani melangkah keluar dari zona nyaman destinasi populer. Mereka tidak lagi sekadar mencari tempat yang “instagramable,” tetapi juga mendambakan pengalaman yang menyentuh lokalitas, cerita budaya, dan suasana baru yang dapat dinikmati bersama keluarga.
Liburan bukan lagi sekadar perpindahan fisik, melainkan perjalanan emosional untuk menciptakan kenangan yang lebih berarti. Di Solo, mereka bisa mengajak anak-anak belajar membatik atau menari Jawa; di Malang, mereka bisa menjelajah kampung tematik atau menikmati sore di alun-alun kota yang teduh. Pengalaman-pengalaman sederhana namun autentik ini justru menjadi daya tarik utama di tengah gempuran wisata serba instan.
Fenomena ini adalah sinyal positif bagi pemerataan pariwisata nasional. Kota-kota seperti Solo dan Malang yang sebelumnya mungkin berada di bayang-bayang tetangganya yang lebih populer, kini mulai mendapatkan tempat yang layak di hati para pelancong. Hotel-hotel lokal, restoran khas, hingga pelaku UMKM di sekitar destinasi wisata pun turut merasakan dampaknya. Liburan menjadi lebih bermakna ketika wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi dan budaya setempat.
\
