Perjalanan Panjang Mercedes-Benz di Indonesia, Dikendarai Pertama Kali oleh Pakoe Boewono X

ASIAWORLDVIEW – Sejarah Mercedes-Benz di Indonesia bukan sekadar kisah masuknya sebuah merek otomotif, melainkan sebuah narasi panjang. Teknologi modern pertama kali menginjakkan kaki di Nusantara. Pada tahun 1894, delapan tahun setelah Carl Benz menciptakan mobil pertama di dunia, sebuah Benz Victoria Phaeton merapat di Pelabuhan Semarang, menjadikannya kendaraan bermotor pertama yang pernah hadir di Indonesia.

“Mobil yang dipesan langsung dari Eropa melalui perusahaan Pröttle & Co. di Surabaya seharga 10.000 Gulden (setara sekitar Rp83 juta pada masa itu) ini adalah milik Sri Susuhunan Pakoe Boewono X, Raja Kasunanan Surakarta,” sebut Donald Rachmat, Chief Executive Officer for Mercedes-Benz Indonesia dalam pameran otomotif GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, Rabu (29/7/2026).

Dengan mesin satu silinder berkapasitas 2,0 liter dan tenaga 5 hp, kendaraan beroda kayu ini menjadi pemandangan yang sangat asing di tengah dominasi kereta kuda. Masyarakat Jawa yang menyaksikan “kereta” bergerak tanpa ditarik hewan apa pun langsung memberinya julukan yang melegenda, “Kereta Setan”.

Namun, kegemaran Sultan terhadap teknologi Eropa tidak berhenti di satu mobil. Pada tahun 1907, beliau kembali mendatangkan Britze Daimler, kendaraan Daimler pertama di Indonesia, yang ditenagai mesin 4 silinder 45 hp yang jauh lebih bertenaga. Tiga dekade kemudian, pada 1934, Pakoe Boewono X kembali membuat gebrakan dengan menghadirkan Mercedes-Benz 500 K, sebuah karya teknik dengan mesin 8 silinder 5,0 liter yang dilengkapi supercharger (Kompressor).

Baca Juga: Mercedes-Maybach GLS 2026, Perayaan Dua Abad Otomotif dalam Balutan Kemewahan

Tanpa supercharger, mobil ini menghasilkan 100 hp, namun ketika kompresor aktif, tenaganya melonjak menjadi 160 hp, cukup untuk melesat hingga kecepatan tertinggi 160 km/jam, sebuah pencapaian fenomenal untuk kendaraan buatan era 1930-an. Mobil ini kemudian digunakan oleh presiden Indonesia.

Era modern Mercedes-Benz di Indonesia dimulai pada 8 Oktober 1970, ketika Daimler-Benz AG dan PT Gading Mas mendirikan PT Star Motors Indonesia sebagai agen tunggal resmi, sekaligus PT German Motor Manufacturing sebagai fasilitas perakitan di Tanjung Priok.

Pada 1971, pabrik Tanjung Priok memulai produksi massal kendaraan komersial pertama, Mercedes-Benz 911, yang oleh masyarakat awam dikenal dengan julukan “Mercy Bagong”. Dua tahun kemudian, pada 1973, produksi mobil penumpang dimulai dengan hadirnya Mercedes-Benz 200, 240 D, dan 280 dari seri W 115 yang legendaris—model-model yang menjadi fondasi kepercayaan publik terhadap kualitas Mercedes-Benz di Indonesia.

Untuk mengakomodasi pertumbuhan produksi yang pesat, pada tahun 1982 Mercedes-Benz meresmikan pabrik perakitan baru seluas 42 hektar di Wanaherang, Bogor, Jawa Barat. Pabrik ini menggantikan fasilitas lama di Tanjung Priok dan menjadi pusat perakitan lokal yang hingga kini memproduksi berbagai model premium, mulai dari C-Class, E-Class, S-Class, GLC, GLE, hingga GLS, serta truk Axor dan sasis bus.

Pada 1978, Mercedes-Benz juga mendirikan Pusat Pendidikan dan Latihan Kejuruan, salah satu pusat pelatihan mekanik terbesar di Indonesia. Dari “Kereta Setan” yang dianggap ajaib di era 1890-an hingga pabrik berstandar global di Bogor, perjalanan Mercedes-Benz di Indonesia adalah cerminan bagaimana sebuah merek tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh bersama sejarah mobilitas bangsa, dari masa kolonial hingga menjadi tolok ukur kemewahan dan teknik otomotif di Tanah Air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *