Rupiah Melemah ke Rp17.778, Tekanan Global dan Domestik Menguat

Teller tengah menghitung tumpukan uang Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada Kamis (27/8/2026), di tengah tekanan dari faktor global dan domestik. Secara umum berkisar di angka Rp17.750 hingga Rp17.778 per dolar AS.

Pelemahan ini berada di kisaran 0,15% hingga 0,31%. Sebagai perbandingan, pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026), rupiah berada di level Rp17.725 per dolar AS. Posisi ini bahkan menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada pagi hari itu.

Pelemahan rupiah didorong oleh dua sentimen utama yang saling menguatkan. Dolar AS menguat setelah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk bulan Juli 2026 yang tercatat sebesar 3,7% (year-on-year).

Baca Juga: Kolaborasi Pemerintah–STARFINDO: Fondasi Transformasi Digital Nasional

Angka ini lebih tinggi dari ekspektasi pasar (3,6%) dan tetap jauh di atas target Federal Reserve (2%). Data ini memicu ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, yang mendorong penguatan dolar AS dan membebani mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Pasar juga mewaspadai adanya aksi demonstrasi yang direncanakan berlangsung pada hari itu. Ketidakpastian politik dan potensi volatilitas pasar akibat aksi tersebut menambah sentimen negatif bagi rupiah. Pasar juga mencermati proses seleksi dan uji kelayakan calon pemimpin baru Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan.

Para analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.850 per dolar AS sepanjang hari. Sepanjang sesi perdagangan, pelemahan rupiah terus berlanjut. Pada pukul 09.05 WIB, rupiah terpantau melemah ke posisi Rp17.775 per dolar AS. Bahkan hingga pukul 09.08 WIB, mata uang Garuda bergerak semakin lemah ke level Rp17.782 per dolar AS.(AWV)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *