Rupiah Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga

Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan kecenderungan melemah pada Rabu (28/10/2026), meskipun pergerakannya masih berada dalam kisaran konsolidasi yang relatif terbatas. Berdasarkan proyeksi sejumlah analis, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada rentang Rp18.150 hingga Rp18.200 per dolar AS.

Proyeksi ini berpijak pada posisi penutupan sebelumnya, di mana pada Selasa (27/10) rupiah ditutup melemah 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp18.156 per dolar AS, yang disebut sebagai level terlemah sejak Juni. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat di level Rp18.139 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp18.116 . Pergerakan ini memperpanjang tren tekanan yang telah berlangsung sejak pekan sebelumnya, ketika rupiah sempat menyentuh level terendahnya dan pasar mulai mencermati kemungkinan tembusnya batas psikologis baru di atas Rp18.000.

Tekanan terhadap rupiah pada hari ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil akumulasi dari sentimen eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Dari sisi global, pelaku pasar berada dalam mode menunggu (wait-and-see) menjelang keputusan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 28 Oktober waktu setempat, atau besok dini hari waktu Indonesia . Ekspektasi pasar mengarah pada penahanan suku bunga, tetapi setiap sinyal hawkish mengenai kemungkinan kenaikan pada Desember akan menjadi katalis bagi penguatan dolar AS lebih lanjut.

Baca Juga: Rupiah Kembali Melemah, Investor Asing Keluar

Indeks dolar AS (DXY) masih stabil di level 102,37, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik tipis ke 4,99 persen. Kombinasi ini menciptakan magnet bagi aliran modal keluar dari aset emerging markets, termasuk Indonesia. Di sisi lain, harga minyak mentah Brent memang sedikit terpangkas 1,67 persen ke US$113,88 per barel pagi ini, tetapi levelnya masih tinggi dan terus menjadi beban bagi struktur fiskal dan neraca perdagangan Indonesia sebagai net importir minyak .

Dari dalam negeri, faktor yang paling signifikan membebani rupiah adalah tekanan musiman akhir bulan (month-end corporate demand). Korporasi domestik meningkatkan kebutuhan likuiditas valuta asing untuk pembayaran impor, kewajiban utang luar negeri, serta pembayaran dividen.

Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya tetap aktif di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. BI terus melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder . Sepanjang tahun berjalan hingga Oktober 2026, BI telah memborong SBN di pasar sekunder sekitar Rp135 triliun, dengan sekitar Rp13 triliun di antaranya dilakukan pada bulan Oktober saja. Langkah ini difungsikan ganda: menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan sekaligus membentengi kurs dari tekanan arus modal keluar. Selain intervensi, BI juga mengandalkan insentif lindung nilai (hedging) untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah, seiring dengan keputusan mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 20–21 Oktober lalu. Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, memberikan bantalan yang memadai bagi bank sentral untuk terus hadir di pasar.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati hasil rapat The Fed sebagai penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang. Proyeksi analis menempatkan rupiah pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS untuk perdagangan hari ini, dengan rentang yang lebih lebar sepanjang pekan ini antara Rp17.900 hingga Rp18.250. Jika The Fed memberikan sinyal pengetatan yang lebih agresif, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut hingga menyentuh level Rp18.200 atau bahkan lebih tinggi. Sebaliknya, jika ada indikasi pelonggaran atau setidaknya nada yang lebih dovish, rupiah memiliki ruang untuk stabil, meskipun tetap dibayangi oleh kebutuhan valas domestik dan sentimen MSCI yang belum sepenuhnya mereda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *