Rupiah Kembali Melemah, Investor Asing Keluar

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali dibuka melemah di zona merah pada Selasa (27/10/2026), meskipun dengan besaran yang relatif tipis. Berdasarkan data, rupiah dibuka pada level Rp18.137 per dolar AS, melemah sekitar 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp18.135.

Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan pembukaan yang sedikit berbeda di level Rp18.120, melemah 10 poin dari penutupan Senin di Rp18.110. Variasi angka pembukaan ini mencerminkan adanya tekanan jual yang masih membayangi mata uang Garuda sejak awal sesi, meskipun belum menunjukkan pelemahan yang agresif. Pergerakan ini memperpanjang tren tekanan yang sudah berlangsung sejak pekan sebelumnya, ketika rupiah sempat menyentuh level terendahnya sejak akhir Juli .

Tekanan terhadap rupiah pada hari ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil akumulasi dari sentimen eksternal dan domestik yang saling memperkuat. Dari sisi global, eskalasi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi momok utama bagi pasar emerging, termasuk Indonesia.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyoroti bahwa laporan beragam dari kawasan tersebut—mulai dari potensi serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran dalam hitungan hari hingga upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan—menciptakan ketidakpastian yang membuat investor enggan mengambil risiko.

Baca Juga: Bank Indonesia Jamin Fluktuasi Rupiah Masih Terkendali Meski Pasar Diguncang Isu MSCI

Ketidakpastian ini mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, yang secara langsung menekan posisi rupiah. Selain itu, pasar juga tengah menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pada pekan ini, menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,75–4,00 persen. Namun nada hawkish yang mungkin disampaikan tetap menjadi risiko bagi mata uang negara berkembang.

Dari dalam negeri, faktor yang paling signifikan membebani rupiah adalah arus modal asing yang terus keluar dari pasar saham domestik. Data Bursa Efek Indonesia mencatat aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp1,85 triliun di seluruh pasar, yang turut memperparah tekanan terhadap nilai tukar . Lukman Leong secara eksplisit menyebut bahwa arus keluar dana asing di pasar saham domestik masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

Selain itu, kekhawatiran fiskal juga mencuat di tengah harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$100 per barel—sebuah kondisi yang memberatkan Indonesia sebagai net importir minyak—serta rencana pemerintah untuk memperluas program pendidikan gratis yang berpotensi menambah beban anggaran . Risiko inflasi juga turut membayangi, dengan angka inflasi September yang percepatannya mencapai 3,28 persen, tertinggi dalam tiga bulan, dipicu oleh kenaikan harga pangan akibat El Niño.

Meskipun demikian, Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya tetap aktif di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa bank sentral terus memantau pergerakan nilai tukar dan menilai level Rp18.100 per dolar AS masih merupakan pergerakan yang wajar dalam dinamika pasar.

BI disebutkan menggunakan berbagai instrumen, mulai dari intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi spot dan non-deliverable forward (NDF), hingga insentif biaya lindung nilai (hedging) yang telah mendatangkan aliran dana melalui swap dan DNDF senilai sekitar US$8 miliar hingga US$9 miliar sejak akhir Juni 2026. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah serta hasil rapat The Fed sebagai penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang, dengan proyeksi analis menempatkan rupiah pada kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS untuk perdagangan hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *