Inflasi 3,28% Masih Terkendali, Daya Beli Terjaga

Juda Agung

ASIAWORLDVIEW – Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengenai inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kondisi tersebut memberikan sinyal bahwa tekanan harga masih berada dalam koridor yang terkendali dan belum mengganggu daya beli masyarakat secara signifikan. Angka tersebut berada di dalam rentang target inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen (yakni 1,5–3,5 persen).

Angka tersebut secara ekonomi dapat dikategorikan sebagai Defisit Neraca Berjalan Melebar, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah – Asia World View dan ideal, cukup untuk menjaga stabilitas harga. Namun tidak terlalu tinggi hingga menggerus daya beli atau mengubah perilaku konsumsi dan investasi masyarakat.

“Kalau inflasi itu masih di dalam target range, artinya dia itu belum terlalu berdampak kepada daya beli, belum terlalu berdampak pada decision making orang di dalam belanja, karena masih terjaga. Itulah inflasi yang ideal memang seperti itu harusnya,” ujarnya dalam agenda Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Kamis (1/10/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026, dengan inflasi year-to-date (ytd) sebesar 2,17 persen. Inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,30 persen.

Baca Juga: Defisit Neraca Berjalan Melebar, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Ia menekankan bahwa inflasi yang mendekati batas atas target belum menjadi faktor penentu dalam keputusan investasi dan konsumsi masyarakat. Inflasi yang stabil dan terprediksi menciptakan kepastian bagi rumah tangga dan pelaku usaha, sehingga mereka dapat merencanakan konsumsi dan investasi tanpa harus mengantisipasi lonjakan harga yang tidak terduga.

“Orang nggak terlalu mikirkan inflasi, karena hanya 2,5 plus minus 1 persen. Jadi dia nggak masuk di dalam faktor mengambil keputusan dia mau investasi atau tidak, mau belanja atau tidak, mau konsumsi atau tidak,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti bahwa inflasi Indonesia masih relatif lebih baik dibandingkan negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan harga lebih tinggi akibat faktor energi dan geopolitik. Penentuan target inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1 persen ditegaskan sebagai by design—bukan kebetulan—untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *